Aksi 212
Angin kencang dan derasnya hujan tak surutkan langkah pemuda asal Jambi, Abror Tanjung, ia berniat Sholat Jumat bersama perserta aksi super damai #212. Dingin, kuyup, gemetar dan menggigil.

Itu yang dirasakan Abror. Namun, tak membuatnya dan para peserta lainnya beranjak pergi. Air hujan yang masuk dalam baju koko dan sorbannya terserap langsung, Abror menikmatinya.‎

“Tak bisa diungkap rasanya saat sujud di genangan air hujan. Seperti ada kekuatan yang membuat saya tetap tinggal di sana,” kata mahasiswa magister UIN Syarif Hidayatulah Jakarta.

Aksi 212/Hilmi Muharrom

Niat Abror jelas, menuntut keadilan untuk si penista agama. Bukan karena perintah Habib Rizieq atau siapapun, bukan juga karena bayaran. Dia hanya ingin pemerintah adil menangani kasus penghinaan Al-Quran oleh Basuki Tjahja Purnama alias Ahok.

Di antara 5 juta orang itu, Abror dapat pelajaran baru. Tekad namanya. Dia menyesal tak ikut aksi damai jili I dan II pada 25 Oktober dan 4 November yang dikenal dengan 411.

“Saya melihat pasangan suami istri membagikan makanan untuk peserta aksi. Ada juga orang tua bersama anak-anaknya, mereka satu keluarga membagikan snack dan minuman,” katanya

“Sebagai pemuda saya merasa sedih tak ikut perjuangan ini dari awal,” tambahnya.

Abror sendiri berangkat dari kediamannya di daerah Ciputat. Dia bersama kawannya Hilmi lebih memilih “ngeteng” atau naik angkutan umum. Sampai di Blok M, Abror dan Hilmi bertemu dengan rombongan peserta aksi lainnya.

“Mereka sangat bersahabat sekali. Jadi saya tak malu-malu bergabung,” tuturnya.

Aksi 212

Takbir, doa dan shalawat yang dilantunkan para ulama, kata Abror, terasa menggema di sepanjang jalan Thamrin. Semangatnya semakin terbakar untuk ikut bergabung bersama para pejuang aksi damai 212.

Usai Sholat Jumat Abror berjalan dari Monas ke Halte Transjakarta Karet. Setelah berjalan kaki 5 Km lebih, ia bergegas naik bus. Dinginnya pengatur suhu dalam bus, membuat Abror ingin buang air kecil. Tapi, apa daya. Kebelet itu ia tahan hingga Halte Lebak Bulus yang berjarak 23 Km.

“Gak terasa capek, yang ada malah tambah semangat. Pengalaman ini sangat berharga dan akan selalu membekas di hati saya,” kata alumni Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran ini.

Abror berharap, pemerintah mendengar umat Islam. Dia minta penguasa bersikap adil. “Hanya itu yang kami inginkan,” ujarnya.

Rep : Alfani Rossi

Editor : Muslim AR