Seorang anak sedang berjalan di dermaga Temajuk. Foto: Zakarija / Islamilenia

Bertubi-tubi Wilayah Aceh dihantam bencana, dari Tsunami 12 tahun lalu, kini giliran gempa meluluhlantakkannya. Beberapa warga kabupaten Pidie Jaya merupakan kabupaten pemekaran adalah korban Tsunami Aceh. Namun, mereka tabah, ikhlas luar biasa.

Bencana di tanah rencong ini bukanlah soal haru biru, air mata, wajah-wajah sedih dan putus asa. Warganya sudah terlatih tabah, ikhlas, dan memaafkan. Trauma psikis bukan hal baru di Pidie.

Bencana adalah trauma psikologis lainnya. Di wilayah Pidie (induk kabupaten pemekaran Pidie Jaya) selama masa Daerah Operasi Militer (DOM), akan sangat mudah menemukan pos tentara menenteng senjata dari pada Warung kopi.

Setiap melintas, warganya akan dihardik. Ditanyai tentara mau kemana, anak-anak di sana sudah biasa melihat senjata api. Apalagi cuma mendengar letusan senjata antara GAM dan Tentara. Trauma sudah tumbuh bersama generasi Aceh hari ini. Mereka dibesarkan dari tragedi ke tragedi. Menautkan geraham, kala bencana demi bencana datang menghampiri.

Kini, Pidie bukan satu kabupaten lagi, sudah ada Pidie Jaya. Mereka dipecah agar mekar. Sejak itu, tentarapun mulai surut. Tak ada lagi pos-pos penjagaan dan senjata laras panjang dan hardikan tentara pada warga. Tahun 2016, lebih mudah menemukan warung kopi, daripada tentara. Meski beberapa pos dan ala-ala kemiliteran masih tersisa.

Gadis kecil yang sedang menunggu pemberangkatan kapal motor masyarakat yang akan menyeberang menuju Pulau Banyak, Aceh. Foto: Zakarija / Islamilenia

Adalah Aliya (24), seorang warga Meureudu, Pidie Jaya, Aceh adalah korban tsunami pindah ke Aceh. Gadis bermata cokelat itu kehilangan ayah dan dua saudaranya.

“Sekarang tinggal bersama Umi dan nenek,” kata Aliya memulai percakapan di samping reruntuhan komplek pasar Meureudu, Pidie Jaya, Aceh, Kamis (8/12) lalu.

Aliya menatap tegar saat satu persatu puing komplek ruko dipindahkan escavator ke dalam bak truk. Gempa kali ini tak ada anggota keluarganya dibawa takdir. Aliya hanya suntuk di pengungsian dan ingin melihat proses evakuasi.

“Saya, Umi dan nenek selamat semua, cuma rumah, dapurnya runtuh, dalamnya retak,” ucap Aliya.

Aliya dengan tenang menceritakan pengalamannya. Tak terbersit bahwa dalam hidupnya terdapat bekas luka. Dua saudara dan ayahnya tak tahu di mana. Apakah disapu tsunami hingga ke pulau antah barantah, atau di dalam kuburan dangkal tanpa nama.

“Kami tak tahu ayah, kakak dan adik di mana, tapi kami biasanya keliling ke kuburan-kuburan massal untuk berziarah,” paparnya.

Aliya tak sendiri menghadapi trauma. Menurut Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi atau Kak Seto. Ratusan bahkan ribuan anak-anak yang dulunya adalah korban bencana gempa dan tsunami 12 tahun lalu, sudah dewasa. Namun, bukan berarti mereka lepas dari trauma.

“Beberapa kami memang monitor (anak-anak yang dulu juga trauma saat tsunami) beberapa diantara mereka sudah lebih tahan banting,” kata Kak Seto.

Kemampuan Aliya, dalam menghadapi trauma tak hadir begitu saja. Dia mengalami luka yang dalam. Namun, Aliya mengaku pasca tsunami, dirinya dan ratusan anak-anak lainnya ikut trauma healing. Jika saja bantuan trauma healing terlambat diberikan, kita akan temukan Aceh dalam kondisi labil, generasi yang depresi dan daerah yang tak bergairah.

“Jadi ini juga tergantung pada pendekatan kita atau treatmen psikologis kita berikan saat awal-awal bencana ini. Ibarat luka, jika cepat disembuhkan, itu tak akan membekas. Tapi, kalau dibiarkan teru menanga, lama-lama menjadi membusuk dan akhirnya meninggalkan cacat. Begitu juga dengn kondisi psikologis anak-anak,” terang Kak Seto.

Dalam prosesnya, trauma healing merupakan upaya untuk membuat anak-anak teralihkan perhatiannya dari duka mendalam karena bencana. Bukan berarti membuat mereka lupa, bahwa mereka adalah korban. Namun, lebih kepada upaya membangun mental tangguh dan memberikan pikiran-pikiran positif. Mereka bukan lah korban, tapi survivor, penyintas dan pejuang.
Aliya adalah korban ke dua kali. Di Desember tahun 2004 ia jadi korban tsunami di Banda Aceh, di Desember 2016 jadi korban gempa di Pidie Jaya. Aliya tak hanya tabah, namun juga tegar.

Beda dengan Wirdatul Husna, bocah perempuan Desa Paya ini, Trienggadeng, Pidie Jaya masih trauma. Melihat ayah dan ibunya ditimpa bangunan. Meski ibunya Husna hanya mengalami lecet di kepala, dan ayahnya menderita lebam di pinggang. Pengalaman menghadapi bencana baru dirasakannya pertama kali di usia 14 tahun.

“Pulang dari Dayah (tempat ngaji), tidur di rumah, bergetar, Umi kena kayu,” terang Husna menjelaskan kejadian subuh itu. Ia melihat dengan jelas, ibunya ditimpa kayu kusen pintu.

Tak lengkap bercerita, Husna memilih mengelak dan bercerita dengan ibunya dalam bahasa Aceh.

Syamsidar (44) ibunya Husna menerangkan. Anak sulungnya ini merupakan anggota keluarga terakhir yang menyelamatkan diri dari dalam rumah. Menurut Syamsidar, anaknya masih trauma, bahkan tak mau masuk rumah mereka untuk mengambil pakaian.

“Rumah kami itu patah tiangnya di tengah,” kata Syamsidar.

Provinsi yang kental dengan agama Islam ini tak terlalu susah untuk disembuhkan. Ajaran agama yang sudah berkelindan dalam keseharian anak-anak Aceh memberikan perlindungan pada mental mereka.

Agama Islam yang mengajarkan takdir adalah kuasa sang pencipta. Membuat warga Aceh lebih berlapang dada menerima bencana. Bukan berarti mereka menyerah dan takluk, tapi lebih kuat menghadapi bencana.
Bencana memang tak bisa dihindari, ada kekuatan di luar diri manusia yang menggerakkannya. Bisa jadi, seonggok batu sudah menunggu bertahun-tahun untuk longsor. Gerakan lempeng bumi butuh waktu puluhan tahun untuk bergerak dan menciptakan gempa.
Tak satupun orang dan teknologi yang mampu memprediksi kapan terjadi bencana. Tapi, tugas manusia adalah tetap berjuang, berfikiran positif dan bangkit dari kesedihan.
Reporter : Muslim AR
Editor : drs