Aku anak kedua dari delapan bersaudara.Kini sisa tujuh bersaudara, sebab anak ke empat meninggal dunia waktu kecil. Orang tuaku usaha jualan sayuran matang di Pasar. Kondisi keuangan keluargaku pas-pasan. dulu orang tua sempat punya rumah, tapi lantaran biaya hidup tinggi, ongkos pendidikan mahal akibantya rumah itu dijual oleh orang tuaku demi keberlangsungan pendidikan anak-anak dan memilih untuk mengontrak rumah sederhana.

Semua itu dilakukan sebagai bentuk kasih sayang orangtua terhadap anaknya. “Sungguh

sangat durhaka sekali kalau aku tidak bisa membahagiakan kedua orangtuaku,” ucapku dalam hati.

Waktu awal masuk sekolah kelas dua Sekolah Menengah Atas (SMA) aku putus sekolah, tapi aku bersyukur karena banyak sekali
pelajaran bisa aku ambil dan selama dua tahun menjadi pekerja serabutan.

Setelah bisa mencari uang sendiri, aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah lagi tanpa bantuan dari orang tua, Dan
alhamdulillah tuntas sampai lulus SMA. Sempat merasakan betapa sulitnya mencari uang sendiri, banting tulang, peras keringat
untuk bisa lulus sekloah. Aku bersyukur bisa mandiri, tanpa membebani orangtua, hanya support dan doa saja yang aku harapkan.

Sempat merantau ke ibu kota, di mata orangtuaku aku dinilai anak paling dewasa di antara saudara-saudaraku.

Kedua orangtuaku sangat sedih sekali ketika aku memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Merantau adalah pilihanku, walaupun kedua orang tuaku melarangku, terutama Ibuku yang sangat sedih ketika aku pergi dan memutuskan untuk merantau ke Jakarta.

Tujuanku merantau ke Jakarta tidak lain hanya untuk membahagiakan kedua orangtuaku. Awalnya aku berfikir untuk membahagiakan orang tuaku, yaitu dengan kerja keras sehingga dapat uang banyak, lalu aku kirimkan ke orang tuaku.

Tapi ternyata susah juga mendapatkan kerjaan di Jakarta, dan hampir putus asa ingin kembali ke kampung halaman setelah tiga bulan lamanya menganggur.

Alhamdulillah, memang Allah SWT tidak tidur ketika hambanya sudah berpasrah diri (bertawakal). Saya mendapatkan panggilan kerja sebagai petugas keamanan (Satpam). Tugas utama saya menjaga showroom mobil di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Ini pengalaman pertamaku menjadi Satpam. Aku sempat pindah tempat kerja dengan profesi yang sama, yaitu jaga sekolah Internasional di Tanggerang.

Dari sinilah aku mendapatkan motivasi melanjutkan sekolah lebih tinggi kuliah Strata 1 (S1), setelah mendapatkan nasihat dari guru ngaji di Masjid dekat tempat kosan.

Guru ngaji itu bilang “kalau kau mau sukses merantau jangan kau kejar dunia saja, tapi ilmu kau kejar juga,” pesan sang guru.

Setelah dua tahun merantau bekerja di Jakarta, bersyukur bisa merasakan duduk di bangku kuliah. Aku ingin membuktikan kembali bahwa bisa membahagiakan kedua orangtuaku dengan menyelesaikan kuliah S1 tanpa biaya orang tua. Mereka sangat gembira sekali mendapat kabar bahwa aku melanjutkan sekolah kuliah S1. Bukan hanya itu, juga bisa mengirim sedikit uang dari gajiku selama kerja di Jakarta.

Setelah tiga tahun lamanya merantau, aku pulang kampung. Pada saat pertama kali pulang kampung halaman, tempat pertama yang ku tuju adalah masjid sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT.

Saat aku sampai rumah, senang sekali bisa bertemu kedua orang tuaku dan tidak bisa membendung air mata. Aku langsung memeluk kedua orang tua, rasa sedih bercampur bahagia. Tapi kebersamaan itu tidak bisa lama karena harus balik lagi ke Jakarta untuk bekerja dan kuliah.

Namun, kontrak kerjaku sebagai satpam di sekolah internasional itu telah habis. Kemudian mencari kerja di Jakarta selatan agar dekat dengan kampus. Teman kuliah membantu mencarikan kerja, akhirnya aku dapat kerjaan di restauran masakan Nusantara sebagai kru dapur.

Tugas pertama mencuci bekas makanan dan minuman pengunjung serta membantu para koki memasak. Pekerjaan di restauran sebagai kru dapur menjadi pengalaman pertamaku. Di sini aku banyak belajar tentang masak-memasak. Dalam hati, aku tertawa sendiri
karena sekarang peganganku bukan lagi tongkat satpam tapi wajan penggorengan. Itulah kehidupan, kita tidak tahu besok jadi apa dan bagaimana.

Cobaan datang di tempat kerjaku, setelah ada pergantian manajemen baru. Pihak Human Resources Departement (HRD) melarangku untuk beribadah dengan alasan efisinsi waktu. Aku pun menolak dan memutuskan untuk keluar dari kerja. Saat itu aku pasrah, karena aku yakin Allah SWT selalu bersama hambanya yang mau dekat dengan-Nya.

Aku bingung, bagaimana dengan biaya kuliah. Jawaban doa saya terkabul karena ada orang menawarkan kerjasama jualan Ayam Bakar di Kantin Masjid Besar di Jakarta.

Aku terima tawaran itu karena bisa beribadah, dekat dengan masjid dan bisa sambil kuliah. Bahkan setelah berjalan usaha ini saya diminta pengurus masjid besar ini untuk bantu kegiatan di masjid itu sambil mengamalkan ilmu kuliahku.

Aku diberikan fasilitas kamar oleh pengurus masjid karena tenagaku sangat diperlukan di Masjid.

Aku harus bisa membagi waktu untuk kuliah, untuk jualan ayam bakar.Namun, bisnis jualan Ayam Bakar tidak berjalan mulus hanya bertahan tiga bulan saja, karena tidak mendapatkan untung hanya balik modal saja. Sementara uang untuk bayar semester belum terbayar.

Akhirnya aku memilih untuk usaha sendiri yaitu jualan kopi keliling menggunakan Sepeda Ontel. Sangat berkesan sekali pada saat jualan kopi karena bisa berkeliling Jakarta dan juga sempat jualan di tempat kuliah. Aku tidak malu karena hidup di Jakarta harus kuat mental.

Pada saat yang sama, aku diberikan amanah mengajar private dan mendapat uang tambahan setiap bulannya untuk biaya kuliah. Akhirnya aku memutuskan berhenti jualan kopi, agar bisa fokus mengajar, bantu kegiatan di masjid dan Kuliah.

Belajar dan mengajar sekarang menjadi kebutuhanku untuk moveon become good person. Empat tahun sudah aku kuliah dan akhirnya lulus menjadi sarjana. Orang tuaku dan keluargaku sangat bangga sekali bisa menyaksikan momentum bersejarah ini dan berharap
bisa mengangkat derajat keluarga.

Orang tuaku selalu berpesan, jangan sampai lalai dalam ibadah. Karena dengan ibadah hidup menjadi berkah. Pesan inilah selalu aku pegang dalam menjalani kehidupan dimasa depan. Berkat doa dari orang tua, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan ke
jenjang pendidikan lebih tinggi kuliah Strata 2 (S2). Walau pekerjaan hanya mengajar private dan petugas muadzin di masjid, tapi aku yakin dengan doa orang tua dan semangat belajar pasti Allah akan memberi pertolongan.
Reporter : Lukman Al Hakim

Editor : drs