Ilustrasi

Pernahkah kita bertanya, mengapa ada hadits menyebut penghormatan pada ibu sebanyak tiga kali dibanding dengan Ayah. Ibu memiliki peranan sangat penting dalam keluarga. Ibu rela melakukan apapun demi kebahagiaan anak-anaknya, tanpa memikirkan dirinya sendiri.

Dalam surat Al-Ahqaaf ayat 15 dikatakan, kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya mengandung dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).

Abu Hurairah RA. juga pernah menuturkan, bahwa ada seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?. Nabi Muhammad shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, Ibumu. Dan orang itu kembali bertanya, kemudian siapa lagi?. Nabi menjawab, Ibumu. Orang tersebut bertanya kembali, kemudian siapa lagi?. Beliau menjawab, Ibumu. Lalu orang tersebut bertanya kembali, kemudian siapa lagi. Nabi menjawab, ayahmu,” (HR. Bukhari 5971 dan Muslim 2548).

Hadits ini diperkuat oleh Imam Al-Qurthubi bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi Muhammad shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali.

Kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Maka bentuk penghormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya. (Tafsir Al-Qurthubi X : 239).

Nabi Muhammad SAW telah menekankan bahwa kita harus berbakti kepada Ibu kita itu 3 kali lebih tinggi daripada ayah, sebab ibu menjaga buah hatinya selama kehamilan, ibu melahirkan, dan ibu menyusui dan merawat anaknya. Begitu berat perjuangan seorang ibu untuk anaknya mulai masa mengadung, melahirkan dan merawat (membesarkan, mendidik) sampai sang anak dewasa.

Fase kehamilan, saat seorang ibu hamil tubuhnya menjadi rentan bahaya. Berat tubuhnya menjadi dua kali lipat, karena membawa kita di dalam rahimnya. Ia harus menjaga pola makan dan menghindari makanan kesukaannya demi kesehatan bayi dalam rahimnya. Ia tidak pedulikan berat beban tubuhnya yang bertambah karena kehadiran kita di rahimnya. Disamping itu, ibu yang hamil juga memiliki kewajiban mengurus suaminya, kerelaan mengatur rumahtangga, bahkan ada masih tetap menjalankan pekerjaannya baik pada bidang bisnis maupun bidang kantoran.

Fase melahirkan, seorang ibu berjuang dengan sekuat tenaga dan bahkan harus berkorban nyawa. Dalam Islam, ibu yang melahirkan terhapuslah dosa-dosanya. Ketika ibu meninggal saat melahirkan, tercatat pahala jihad baginya. Ibu yang melahirkan mendapat pahala 70 tahun salat dan puasa, serta hadiahkan pahala menunaikan ibadah haji. Bahkan fakta tentang ibu yang melahirkan secara medis yaitu ketika bersalin, rahim ibu akan mengembang 500 kali daripada ukuran normal untuk menampung kandungan, darah yang hilang pada proses kehamilan adalah 500 ml, badan manusia hanya mampu menanggung rasa sakit sampai 45 Del, tetapi ibu bersalin mengalami rasa sakit hingga 57 Del artinya sama dengan 20 tulang yang dipatahkan secara serentak

Ubadah ibn Shamit ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bertanya, “Siapa yang kalian anggap sebagai syahid?”. Mereka menjawab, “Yang berperang hingga terbunuh di jalan Allah Swt,”. Mendengar jawaban tersebut beliau bersabda, “Kalau begitu orang yang syahid di antara umatku sedikit. Namun, orang yang terbunuh di jalan Allah syahid, orang yang mati karena penyakit di perut syahid, orang yang kena wabah penyakit syahid, wanita yang meninggal dunia sementara dalam perutnya terdapat janin juga syahid (entah sebelum atau sesudah melahirkan).” (HR Imam Ahmad, Ibn Majah, dan Ibn Hibban).

Fase berikutnya, menyusui dan merawat anak hingga dewasa. Ibu rela dan ikhlas mengorbankan tubuhnya demi sang anak. Ibu harus membagi waktu untuk dirinya, bayinya, suaminya.

Dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 233, “Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan,”.

Selain itu, dalam surat Luqman ayat 14, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun,”.

Ibu rela menyusui kita, tidak mementingkan badannya yang penting anaknya sehat. Ibu juga rela merawat kita saat kita masih bayi. Bahkan ibu rela mencurahkan seluruh waktunya pada bayinya mulai dari memandikan, memakaikan baju, mengajarkannya bicara, memberikan pendidikan, memberi makan, mengasuh kita, menemai bermain saat kecil, dan selalu ada saat kita menangis. Itulah keistimewaan ibu, kodrat sebagai perempuan yang diciptakan Allah SWT.

Reporter : Nabila Paramitha

Editor      : drs