Masih teringat di benak ku ketika masih di Sekolah Dasar, ingin rasanya ikut nyantri seperti ustad di kampung. Mereka berhasil jadi pemuka agama yang disegani dengan menimba ilmu di pesantren. Tak dinyana keluarga pun mendukung. Rupanya mereka juga ingin anaknya yang satu ini memiliki pengetahuan agama yang luas. Selain itu, sedari kecil aku sudah terbiasa ditanamkan nilai keagamaan yang kuat untuk selalu taat dalam beragama. Ini semakin membuat ku antusias untuk nyantri dengan menimba ilmu di pesantren.

Aku memang ingin sekolah dan nyantri di pesatren, tapi maunya aku ya tidak di pesantren yang jauh dari rumah. Karena dalam pikiranku waktu itu, ketika aku nyantri dekat rumah, aku pun bisa pulang kapan saja. Di kala aku kangen rumah, aku pulang. Di kala aku kangen ibu dan bapak, aku pulang. Ingin kangen main dengan teman di dekat rumah, dengan gampangnya aku tinggal pulang. Aku orangnya kangenan.

Tapi apalah daya orang tuaku lebih memilih agar aku nyantri di pesantren yang jauh dari rumah. Awalnya sedikit kecewa, tapi karena sudah keinginan untuk nyantri di awal tadi, ya sudah.

Orang tuaku memilih salah satu pesantren yang cukup masyhur namanya. Sudah banyak melahirkan santri-santri yang berakhlak mulia dan  bisa menjadi panutan di masyarakat. Sepertinya, ini jadi referensi mereka. Orang tuaku juga berharap dan berdoa aku bisa menjadi yang seperti itu.

Setelah lulus SD, aku akhirnya nyantri di pesantren yang jauh dari rumah itu. Di awal-awal aku nyantri, pesantren ini terasa asing. Barangkali karena aku belum kenal siapa-siapa. Aku kan orang baru. Pikirku, aku harus cepat-cepat adaptasi. Orang tua juga bilang agar betah-betah di pondokan.

Dalam hati kecilku aku berkata “Tega sekali orang tua ku ini menaruh aku di pesantren yang jauh dari rumah”. Sedih juga aku waktu itu. Umur ku masih belasan tahun ketika itu. Bisa dibilang sedang lucu-lucunya. Tapi mau tak mau aku harus mengabaikan kelucuan itu demi kebaikan di masa depan. Tapi waktu itu aku belum berpikir ke sana, sekarang saja baru sadar. Aku hanya menuruti kemauan orang tua.

Saat pertama aku diantar ke pesantren bersama orang tuaku, ada saat yang membuat aku menangis. Bukan karena cengeng. Ini menangis karena sedih bercampur kesal juga. Namanya anak kecil. Itu terjadi saat orangtua ku harus pergi dan berpisah untuk sementara waktu. Ya mereka harus pulang. Kan yang nyantri aku, bukan mereka. Aku menangis saat berpisah dengan mereka.

Saat malam pertama nyantri, aku asingkan diri ini dari keramaian. Aku memilih tempat yang sunyi. Aku menangis…. aku sedih…harus jauh dari rumah dan orang tuaku.

Orang tuaku berpesan agar aku bisa beradaptasi di lingkungan yang baru dan teman yang baru tanpa kehadiran orangtua.

Hari-hari pertama nyantri, terasa lama sekali menunggu kehadiran orang tua. Aku kangen. Aku sudah tulis di atas aku orangnya kangenan. Orang tua baru bisa datang kalau sudah sebulan. Sebulan aku tak melihat orang tua. Biasanya setiap hari lihat mereka, sekarang setiap hari hanya bisa membayangkan mereka. Aku pun boleh pulang jika waktu liburan telah tiba. Biasanya setiap hari pulang sekolah bertemu orang tua, kini hanya libur sekolah aku bertemu orang tua.

Akhirnya waktu yang ditunggu itu tiba. Genap satu bulan aku nyantri. Sudah menunggu lama satu bulan, tapi yang datang hanya bapak saja. Ibuku ke mana? Aku sedih lagi jadinya. Ibuku tidak ikut bapak untuk menyambangiku di pesantren.

Sudah pun begitu, bapak hanya bilang jangan sedih. Lepas itu, bapak tanpa basa-basi memberikan bekal uang untuk persediaan selama satu bulan ke depan. Ia meminta saya untuk hemat alias irit. Supaya cukup dalam sebulan.

Bapak berpesan agar aku tegar dan betah di pesantren. Akhirnya bapak menceritakan ihwal ibu yang belum bisa menyambang ku. Ia menyampaikan permohonan maaf kepadaku,”Ibu tidak bisa ikut karena suatu hal tapi ini ada surat dari Ibumu”. Itu yang bapak katakan sebelum pulang. Aku belum sempat membacanya tapi bapak sudah pamit pulang. Aku juga ingin membacanya sendiri di tempat yang sepi.

Surat itu aku baca di pojok masjid pesantren. Aku membuka amplop surat itu pelan-pelan. Di pikiran ku bertanya-tanya, ada apa gerangan ibu tak bisa datang kali ini. Padahal aku sudah kangen dengannya.

Ketika aku baca pelan-pelan di awal, tak terasa di ujung mata ini menetes sedikit demi sedikit air mata. Karena ketika aku membacanya, yang terbayang oleh ku wajah ibu yang sendu. Yang bisa menyejukkan hati siapa saja melihatnya. Suaranya pun terdengar dengan jelas ketika aku membaca surat itu. Ibu seperti hadir dan berbicara kepada ku. Aku bisa mendengar setiap intonasi khas cara bicara ibu yang kadang cepat itu. Tapi aku paham.

Pada akhirnya, isak tangis itu pun pecah. Aku sudah berusaha menahannya. Seperti ini lah isi surat itu.

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

Manul sayang, bagaimana kabarmu, Nak? Sehat-sehat saja, kan? Semoga Ibu doakan kamu dalam keadaan sehat wal afiat dan selalu dalam lindungan Allah Subhanahu wa ta’ala Amiin.

Jangan lupa ya,  belajar dan tadarus Al-Quran tiap malam agar hatimu cerah dalam menimba Ilmu Dunia ataupun Ilmu Agama dan kelak bisa bermanfaat di dunia ataupun di akhirat.

Nak,  ini  sekarang dirimu sudah jauh dari Ibu dan Bapak tapi janganlah berkecil hati, tegarlah, semangatlah dan berdoalah selalu untuk Ayah dan Ibumu dan untuk dirimu sendiri, Insya Allah Tuhan akan mengabulkan cita-citamu . Ibu dan Ayah selalu berdoa untuk dirimu, ini Ibu tidak bisa ikut nyambangi kamu karena Ibu Repot, maafkanlah ya Nak. Kelak Ibu kalau ada waktu Insya Allah Ibu kesana.

Sampai disini dulu. Pesan Ibu,Janganlah lupa, Ingatlah selalu dan patuhilah perintah Ibu dan Bapak Gurumu ataupun Bu Nyai/ Pak Yai, terimakasih

Wassalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh,

Dari Ibumu..

 

Oleh : Lukman Hakim

(Oby)