“Alhamdulillah kita bisa berangkat umrah sekeluarga,” kata Papah dengan berlinang air mata, saat berbicara kepadaku.

Saat itu aku tertarik menyimak cerita kedua orang tua baru pulang dari Tanah Suci, Mekah. Senyum sumringah dan sinar terpancar di wajah mereka membuatku ingin terus menggali kisah perjalanan umrah.

Ketenangan hati, jiwa damai, serta sederet keajaiban hingga menitihkan air mata saat melihat Kabah. Dan rasa rindu ingin ke sana lagi.

Di sana air zam-zam, makanan apapun bisa dibagikan secara gratis. Do  Para jemaah umrah dengan khusuk beribadah mencari pahala Serra ridho Allah SWT.

“Mau balik lagi mau salat terus di depan Kabah. Rasanya tenang banget,” kata kedua orangtuaku waktu itu menunaikan ibadah haji pada 2012 lalu.

Tidak hanya itu, masih banyak cerita lainnya membuatku tergugah ingin menjadi ‘tamu’ Allah. Merasakan seperti para jemaah umrah lainnya. Dengan doa dan usaha, Akhirnya aku bertekad menabung untuk ongkos umrah.

Hal itu aku utarakan pada kedua orang tua. Dan Masya Allah, mereka mendukung. Bahkan mereka juga Ada niat bisa kembali lagi melihat Kabah bersamaku dan adik.

“Yuk kita nabung sama-sama. Semoga kita bisa ya umrah sekeluarga. Mudah-mudahan Allah kasih rezeki,” ucap Papah aku.

Ya, saat itu umrah sekeluarga masih jadi angan-angan. Aku pun masih kuliah Strata 1 (S1) semester empat. Aku termotivasi lulus tepat waktu agar bisa cepat kerja dapat uang dan celenganku bisa terkumpul untuk umrah.

Aku terus berdoa, meminta kepada Allah agar harapan ini terkabul. Aku juga selalu mengingat ucapan Ustadz Yusuf Mansyur apabila ingin doa dikabulkan, maka rajin-rajin bersedekah, salat  Dhuha, salat Tahajjud, baca surat Ar Rahman, Al Waqiah dan Al Mulk.

Sepanjang tahun sejak 2012 aku terus mengupayakan istiqomah menjalankan ajuran Ustad YM sapaan akrab Yusuf Mansyur. Subhanallah, kemudahan-kemudahan Allah berikan kepadaku dan keluargaku.

Alhamdulilah, aku lulus tepat waktu pada 2014. Dan hanya berselang satu bulan, aku langsung diterima kerja di salah satu perusahaan swasta. Padahal aku tak mencantumkan ijazah saat melamar, hanya surat keterangan lulus kuliah.

Tekad umrah bareng keluarga terus terbesit dalam ingatan dan selalu tersimpan di hati. INI menjadi semangat menjalani pekerjaanku setiap hari. Aku juga tak pernah bosan munajat kepada Allah meminta doaku dikabulkan.

Waktu terus berjalan, sampai pada akhirnya Allah memperkenankan kami sekeluarga menjadi tamu Allah yakni berangkat umrah. Alhamdulillah, bulan Mei 2016 lalu kami berangkat ke Tanah suci Makkah.

Aku masih tak percaya bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci. Seakan mimpi di siang bolong. Semula hanya angan-angan, sekarang menjadi kenyataan. Bahkan, di sana aku bersama orang-orang tercinta. Masya Allah, sungguh banyak karuniamu kepadaku.

Hikmah yang aku ambil yakni jangan takut bersedekah. Sebab apa yang kita sedekahkan, Allah bakal mengganti lebih dari yang kita berikan. Jangan pernah lelah berdoa dan tawakal. Perbanyak salat sunah, membaca Alquran untuk mempercepat dikabulkannya setiap doa.

Penulis : ARA

(drs)