Menikah bukan soal hidup bersama saja. Ada komitmen, pengertian, saling menghargai serta segala nasehat baik lainnya jadi tujuan.

Tak jarang perceraian dimulai dari hal-hal sepele, karena luar biasa sibuknya mencari rezeki demi kehidupan yang lebih baik, sehingga kesempatan bertemu dengan pasangan dan keluarga hanya di saat istirahat dan pulang kerja saja.

Beda halnya dengan ratusan Pace dan Mace (suami istri) di Kampung Malawei, Distrik Sorong Manoi, Kota Sorong, Papua Barat.

Di sini mensakralkan pernikahan mereka di laut. Laut dan kehidupan tak terpisahkan bagi masyarakat setempat. Serupa ombak dengan pantai yang saling berpadu, pantang cerai.

Hidup sederhana di rumah panggung, permainan konyol oleh anak-anak jadi perintang hari menjalani rutinitas di kampung nelayan berada di utara Kota Sorong. Jauh dari kebisingan hanya riak-riak ombak sesekali berkecipak di bawah rumah panggung.

“Ini buat hiburan kaka, tunggu mama pulang dari laut,” ujar seorang bocah kurus berambut ikal sembari main mengocok kayu-kayu kecil dibundarkan di dalam sebuah bola plastik dilubangi.

Di sisi kayu bundar itu tertulis berbagai angka dari 1 hingga 100. Bocah berambut ikal tak mau menyebutkan namanya itu meneriakkan angka keluar dari bola plastik.

Tiba-tiba, belasan temannya menunduk. Mereka serius memperhatikan benda di depannya, ada berupa kertas bekas, karton dan kardus bekas bertuliskan angka-angka acak dan tak lengkap, serupa permainan Sodoku. Mereka mencoret sesuai angka disebutkan bocah berambut ikal.

“Ada hadiahnya kaka, 5 ribu bagi setiap sama angkanya,” imbuh bocah tersebut.

Permainan ini di gerbang kampung nelayan menyambut saya di suatu sore di Kampung Malawei, konon punya tradisi melaut harus berpasangan. Jika tidak, ada-ada saja kemalangan datang selama di lautan.

“Sudah 4 kali dihantam badai, terakhir bodi pecah dan semang patah, itu semua karna tara bawa istri,” kata Kristian (43) Nelayan setempat, memulai kisahnya selama 23 tahun melaut bersama istri.

Kristian hanya pasangan kebanyakan di kampung itu, ada sudah hampir setengah abad hidup bersama di lautan.

Di kampung ini, pantang bagi lelaki telah beristri melaut sendirian. Sang istri hanya boleh ditinggal jika sedang sakit, haid, hamil, dan menyusui saja, selebihnya wajib dibawa.

Sedangkan sebaliknya, si istri hanya bakal melaut sendirian kalau sang suami sakit. Selebihnya mereka pergi bersama, kecuali hari Minggu.

“Selain beribadah, kami juga libur,” ucap Naomi (62) yang tengah mengendong cucunya sambil tertawa riang.

Naomi adalah istri dari Markus Bere (74), mereka sudah menikah selama 42 tahun lebih. Tak ada sekali jua terpisah, melaut bersama sudah jadi keseharian gelombang tinggi selalu menguji keseriusan mereka membangun rumah tangga. Entah mempertahankan tradisi atau memang takdir selalu mempertemukan para nelayan di kampung ini.

“Ini suda turun temurun, sa punya bapak begitu, sa punya mama juga begitu,” tutur Markus Bare.

Hingga kini, dia sudah memiliki 23 cucu dari 8 anak. Mereka juga memiliki kisah cinta sama. Kenal saat menemani orangtua mereka melaut, lalu melaut bersama, berpacaran, dan kencan di lautan hingga menikah dan tua.

“Saya ketemunya (suami) umur 18, tahun, menikah umur 20 tahun,” kata Naomi.

Di sini para nelayan mulai melaut sejak pukul 04.00 WIT hingga 08.00 WIT, dan baru akan pulang di sore atau malam harinya. Meski melaut berdua, urusan keuangan tetap saja istri mengaturnya.

“Yang jual tetap mama, kita ngerokok dan ngopi saja sudah di rumah,” ujar Markus Bere.

Markus, lelaki jauh dari kata renta. Meski berumur 74 tahun, dari wajah dan perawakannya kakek 23 cucu itu masih berusia sekitar 50 tahun.

Pasangan ini tetap melaut, meski anak-anaknya sudah berkeluarga dan ada di antaranya juga jadi nelayan. Tapi, apa hendak dikata. Naomi dan Markus sudah menyatu dengan gelombang, mereka tetap mangail ikan di laut-laut terdalam.

Satu kail pancing milik Naomi dan Markus bisa mencapai panjang 20 hingga 30 meter, mereka adalah nelayan spesialis ikan laut dalam. Berbagai rintangan sudah mereka lewati berdua, dari badai memaksa mereka berdiam di sebuah pulau hingga pagi, sampai harus mengikuti ikan tuna besar dengan panjang 4 meter terkait di pancing milik Naomi.

“Saya suruh bapak pegang kemudi saja, saya dapat itu ikan, ikut sampai dia lelah, baru angkat ke atas,” ujar Naomi menceritakan kekompakan mereka dalam mencari ikan di laut.

Jika Markus tak paham apa terpancing oleh kail istrinya, alamat badan celaka. Pancing bisa patah, istrinya bisa tercebur kelaut, atau sampan kecil mereka dihantam tuna marah karena mulutnya tersangkut kail Naomi.

Namun, dengan kerja sama apik, Markus mengatur laju mesin sampan mengikuti arah larinya ikan tuna, Naomi terus bertahan dengan tarik ulur tali pancing ikan seberat 30-40 Kilo gram.

“Itu sa sendiri angkat dari laut, panjangnya 4 meter, bodi saja penuh,” kenang Naomi tentang perburuan menangkap tuna ekor kuning terkenal lincah dan banyak di sekitar perairan Raja Ampat.

Belakangan ini Markus kecewa, bukan karena sang istri makin tua, atau pendapatan sebagai nelayan semakin susah. Ia kesal dengan ulah orang-orang di kampungnya, nelayan kini tak lagi menghargai alam.

Mereka menggunakan bom dan racun untuk memperbanyak hasil tangkapan. Sepasang nelayan ini menganggap itu keterlaluan, markus bahkan sering menegur para nelayan pengebom dan peracun. Tapi, apa daya banyak nelayan lebih mementingkan kuantitas, bukan kualitas.

“Suda sering kasih larang, kalau di bom, karang rusak, kami melaut makin jauh,” keluh Markus.

Usai berbincang dengan Markus, Naomi, Kristian dan pasangan nelayan lainnya. Kami membakar ikan hasil tangkapan Markus dan Naomi, dari arah barat pelan-pelan matahari seolah ditelan lautan lepas.

Jelang gelap, seorang wanita dengan sampan kecilnya merapat ke Kampung Malawei.

“E Mama, sudah pulang ka?, Banyak ikan?,”  ucap Kristian pada wanita pulang melaut itu.

Menurut Kristian, dia baru saja menjanda. Suaminya meninggal dunia, kini Janda itu harus melaut dengan sampan kecil tanpa mesin.

“Mama itu melaut sampai di balik pulau itu, cuma dayung saja tara (tak) pakai mesin,” ungkap Kristian.

Para nelayan mulai membicaran wanita itu, mereka bersepakat agar bantuan kapal ketinting dari pemerintah akan diberikan pada Naomi dan Markus diserahkan pada janda itu saja, sejatinya masuk gelombang kedua dalam daftar penerima bantuan kapal dari pemerintah Propinsi.

Begitulah riwayat kampung Malawei, tempat nelayan-nelayan tak pernah sepi.

Jika ada nelayan perempuan atau lelaki melaut sendirian dari kampung ini, percayalah mereka punya alasan hakiki kenapa menantang badai sendiri.

 

Muslim AR

(drs)