“Janganlah kamu menilai mereka mencoba dan gagal. Tetapi nilailah mereka gagal mencoba. Satu-satunya orang tidak membuat kesalahan adalah orang tidak berbuat apa-apa. Jangan takut kepada kesalahan, dengan syarat anda tidak mengulangi kesalahan sama,” Roosevelt.
Pertama, saya ingin jelaskan bahwa larangan takut salah di atas bukanlah sebagai dorongan untuk berbuat sebaliknya, yaitu berani berbuat salah dalam hal perbuatan kita, baik pada sesama manusia (horisontal) maupun pada Tuhan (vertikel). Tetapi ini dalam konteks mempelajari atau melakukan sesuatu baru.
Sering kali orang takut-takut dalam mencoba sesuatu baru atau mempraktikkan pelajaran memang membutuhkan praktik. Sebutlah mempelajari bahasa-bahasa asing seperti Inggris, Arab, Perancis, dan sebagainya.
Tidak sedikit orang takut sekali salah dalam mempraktikkannya sehingga tidak berani berbicara. Akibatnya, kemampuan berbahasanya tidak berkembang dengan baik.
Saya teringat betul pengalaman waktu masih nyantri di pesantren mengharuskan para santrinya berbicara dalam bahasa Arab dan Inggris secara bergantian.
Saya termasuk di antara santri sangat sering dihukum oleh qismul lughah atau bagian kebahasaan menangani mereka melanggar berbahasa. Termasuk dalam pelanggaran berbahasa adalah mencampuradukkan antara bahasa asing dan Indonesia bahkan daerah.
Saya termasuk sering ketahuan melakukan pelanggaran jenis tersebut dan pernah bertanya-tanya kepada diri sendiri kenapa saya lebih sering dihukum daripada teman-teman lain.
Rupanya saya termasuk banyak bicara dan kadang-kadang keliru atau campur aduk bahasanya sehingga gampang sekali ditemukan oleh jasus, sebutan untuk santri sedang menjalani hukuman dan ditugaskan untuk mencari para pelanggar lainnya secara diam-diam.
Namun saya tidak menyesal atas kejadian tersebut. Sebalikny malah mensyukurinya, terutama di kemudian hari. Seringnya dihukum karena seringnya berbicara justeru membuat perkembangan kemampuan berbahasa saya lumayan bagus. Dan baru tahu kemudian teman-teman jarang dihukum itu ternyata jarang juga berbicara atau bercakap-cakap dalam bahasa asing.
Salah satu sebabnya adalah karena takut salah itu. Semakin takut salah semakin tidak berani praktik dan semakin tidak berkembanglah kemampuan berbahasanya. Tentu saja takut salah tidak hanya berlaku untuk praktik berbahasa, tetapi untuk semua percobaan ilmu pengetahuan. Istilah trial and error menunjukkan bahwa proses coba dan salah itu merupakan hal biasa.
Tidak heran kalau seorang ilmuwan terkenal dunia, Albert Einstein, mengatakan senada dengan Roosevelt di atas bahwa orang tidak pernah berbuat salah adalah orang tidak pernah melakukan sesuatu.
Logikanya pantas saja ia tidak membuat kesalahan wong ia diam saja atau tidak melakukan apa pun. Tapi karena itu ia jadi tidak bisa apa-apa atau tidak mengalami perkembangan apa pun, lebih-lebih lagi prestasi.
Padahal dunia saat ini adalah dunia kreativitas sangat menuntut keberanian orang untuk melakukan berbagai macam percobaan. Demi kreativitas kadang orang harus berpikir out of the box, supaya menghasilkan sesuatu luar biasa atau belum terpikirkan oleh orang lain. Hal ini tentu saja tidak akan pernah bisa dilakukan oleh orang takut salah.
Ingatlah kemajuan zaman kita alami saat ini, seperti perkembangan teknologi informasi canggih, adalah hasil kreativitas orang-orang yang berani berbuat salah.
Karena melalui kesalahan-kesalahan itulah mereka kemudian melakukan perbaikan dan penyempurnaan penemuan kreatifnya. Jadi, sekali lagi, jangan takut salah, karena takut salah itu adalah kesalahan.
Iding Rosyidin, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
(drs)