ilustrasi
ياايهاالذين امنوا اتقوا الله ولتنظر نفس ما قدمت لغد واتقوا الله ان الله خبير بما تعملون

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dikerjakannya untuk hari esok, dan bertakwallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan,” Al-Hasyr ayat 18.

Berpikir ke depan sesungguhnya sangat penting karena dapat menuntun arah perjalanan hidup kita. Ibarat kita mau pergi ke sebuah tempat, baik untuk tujuan usaha ataupun sekadar tamasya, akan sangat terbantu kalau kita berupaya mencari tahu terlebih dahulu tentang hal ihwal tempat tersebut: rute tersingkat, bebas macet, dan sebagainya.

Dengan selalu berpikir ke depan kita bisa mengantisipasi berbagai potensi persoalan, sehingga kita bersiap-siap mencari solusi sejak awal. Bayangkan jika pada kasus bepergian tadi, kalau tidak mencari tahu terlebih dahulu, bisa-bisa kita akan menemukan banyak hambatan di perjalanan. Misalnya terjebak dalam kemacetan parah, tersesat di jalan, atau kendaraan mengalami masalah karena tidak dicek sebelumnya.

Ayat al-Qur’an di atas sesungguhnya mengajak kita semua untuk senantiasa berpikir ke depan. Ada satu kata kunci pada ayat tersebut, yakni kata al-ghad, yang arti harfiahnya esok untuk menegaskan pentingnya kita berpikir ke depan.

Kata al-ghad, dalam kitab-kitab tafsir, diinterpretasikan sebagai yaumul akhir atau hari kiamat, bukan semata-mata besok atau setelah hari ini. Dengan demikian, kita semua diajak untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya sehingga ketika hari yang telah dijanjikan itu tiba kita sudah siap sedia, terutama timbangan amal kebaikan.

Oleh karena itu, di dalam ayat tersebut kita diminta untuk memperhatikan apa yang telah kita perbuat untuk menyongsong hari kiyamat. Di sini kita perlu melakukan koreksi diri (muhasabah) atas segala ucapan dan perilaku kita yang telah lewat. Ingatlah, pada waktunya kita akan dihisab.

Maka, sebelum datang saatnya, hisablah dulu diri kita, seperti ditegaskan dalam sebuah keterangan.

حاسبوا أنفسكم قبل ان تحاسبوا

Berdasarkan pada muhasabah itulah kita kemudian melakukan langkah-langkah antisipatif. Kalau sekiranya masih banyak kekurangan, sudah selaiknya kita mengisinya dengan hal-hal yang lebih baik. Kalau misalnya sudah cukup baik, tahap berikutnya adalah meningkatkannya menjadi lebih baik, sehingga makin kuatlah bekal kita.

Namun sebenarnya, kata al-ghad, bisa juga dimaknai dalam pengertiah harfiahnya, yakni besok atau hari setelah hari ini. Kita diperintahkan Allah untuk selalu menpersiapkan segala sesuatu sebelum kita melakukan suatu pekerjaan.

Kalau, misalnya, kita sebagai guru atau dosen, dan besok hendak mengajar, seyogianya kita membuat persiapan mengajar atau l’dad at-tadris.

Kalau di dalam sebuah organisasi, langkah seperti ini biasanya disebut dengan perencanaan (planning). Organisasi yang tertata dengan baik sesuai dengan namanya mestinya begitu selalu membuat perencanaan yang matang sebelum melangkah ke tahap eksekusi. Tanpa perencanaan yang matang, lebih-lebih tanpa perencanaan sama sekali, hampir pasti hasilnya tidak akan memuaskan.

Dengan demikian, ayat di atas memerintahkan kepada kita semua untuk pandai-pandai membuat perencanaan untuk semua kegiatan yang akan kita lakukan. Ini jelas merupakan cara hidup yang modern di mana pertimbangan rasional (membuat perencanaan) diminta selalu dikedepankan setiap kali akan melakukan sebuah tindakan.*

 

Iding Rosyidin, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
(drs)