Ilustrasi
Ribuan jemaah memenuhi Haul KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur di Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Sabtu malam (7/1). Mereka yang hadir, berasal dari berbagai daerah, lintas suku dan agama.
“Hadirnya ribuan jemaah dari berbagai daerah dalam Haul Gus Dur ini membuktikan bahwa masyarakat masih mencintai dan merindukan sosok Gus Dur, yang  konsisten selalu berpihak pada kaum lemah dan pembelaan pada minoritas,” kata Direktur The Wahid Institute Yenny Wahid, yang juga putri kedua Presiden ke-4 RI itu di Lokasi.
Yenni mengungkapkan aktualisasi ajaran Gus Dur  memiliki arti sangat penting bagi bangsa dan negara. Terlebih di tengah situasi kehidupan berbangsa yang terpecah belah karena faktor SARA. Sikap  intoleransi dalam beragama, kebhinekaan mulai terusik sehingga NKRI terancam lantaran radikalisasi paham keagamaan serta saling fitnah dan hujat berlatar perbedaan pandangan politik.
“Itu sebabnya, pikiran dan gagasan besar Gus Dur tentang humanisme dan pluralisme perlu untuk terus dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa,” papar Yenny.
Pemikiran kedamaian Gus Dur, menurut Yenny, juga telah disampaikan Presiden Jokowi dalam Haul Gus Dur di Ciganjur, akhir Desember lalu. Ketika itu Jokowi mengatakan bahwa Gus Dur selalu menjadi inspirasi bagi masyarakat dunia, bahwa Islam mengajarkan hidup dalam  persaudaraan dan perdamaian, bukan untuk memecah belah persatuan umat. Pada beberapa Haul Gus Dur seperti di Tebu Ireng dan sebelumnya di Jember, Yenny sengaja mengutip dan meneruskan pesan Presiden Jokowi kepada masyarakat.
“Presiden Jokowi mengingatkan bahwa Gus Dur selalu mengajak pada Islam yang moderat, menghargai pluralisme dan Islam pembawa pesan kedamaian,” sambung dia.
Di hadapan jamaah di Tebu Ireng lebih lanjut Yenny menceritakan, meski pernah menjadi Presiden, Gus Dur tidak banyak memberikan warisan harta. Yenny masih ingat betul ada dua prinsip atau pedoman dipesankan Gus Dur kepada anak-anaknya. Dua prinsip itu, yang pertama adalah kejujuran. Dengan selalu jujur dalam bersikap, manusia akan tenang dalam menghadapi gejolak kehidupan.
“Misalnya ada yang memfitnah melalui medsos, atau berita-berita ‘hoax’, akan dihadapi dengan gampang. Ah, ini tidak benar”, ucap putri sulung Gus Dur ini.
Prinsip kedua, kata Yenny, selalu bersikap lemah lembut kepada siapapun. Tidak peduli berbeda agama, ras, maupun keyakinan.
Lanjut dia, Gus Dur menilai manusia itu tempatnya perbedaan. Karena itu perbedaan bukan menjadi kendala untuk bersatu dalam keharmonisan dalam beragama.
“Itu juga tak lepas dari ajaran Islam dalam berdakwah, yang menyebut agar mendekati mereka yang tidak seiman dengan kelembutan”, tutup Yenny.
Reporter : Muslim AR
Editor : Mitha