Lelaki berbadan kecil ini tekun mengulang-ulang ayat Alquran. Lembar demi lembaran mushaf Alquran dibacanya setiap hari hingga kini menjadi penghapal Alquran.

Yakni Danu Yusuf (13), hafidz Qur’an dari Palembang. Setelah hafal 30 juz mengaku ingin mengabdi di kampung halamannya.
Danu saat ini tercatat sebagai santri Pesantren Takhasus Daarul Qu’an Kemang, Jakarta Selatan. Hafalan Qur’an Danu sudah mencapai 22 juz, paling tinggi dibanding teman-temannya.

Alasannya ingin menghafal 30 juz yakni membawa nama baik nama keluarga dan membuat orang tua bangga. Khususnya ibu Danu saat ini sudah meninggal.

“Hafal Qur’an adalah hadiah Danu untuk ibu,” tutur Danu.

Dia bercerita, sang ibu sangat senang saat melihatnya berkeinginan menghafal Alqur’an. Bahkan, tak jarang bertanya tentang perkembangan Danu saat masih di Rumah Tahfidz sekitar daerah Palembang.

Namun, ibunda Danu tak sempat melihat anaknya berhasil lulus menjadi salah satu santri Pondok Pesantren Takhasus Daarul Qur’an, sejak Agustus lalu. Karenanya, Danu yakin bisa mendapat gelar hafidzul Qur’an.

Mengingat ayahnya hanya bekerja sebagai penjual bakso, Danu bersyukur Pesantren Takhasus Daarul Qur’an full beasiswa membuatnya bisa merealisasikan keinginan dan cita-citanya. Dia punya mimpi bisa mendapat beasiswa untuk kuliah di Madinah.
Danu berharap nantinya bisa mengamalkan Alqur’an kepada masyarakat ada di tanah kelahirannya. Cita-citanya bisa menanamkan Alqur’an di hati warga Palembang.

“Setelah lulus kuliah, Danu mau jadi ustadz di Palembang. Mengabdi untuk masyarakat,” ungkapnya.
Danu khusus memberikan tips menghafal Qur’an dengan cepat. Menurutnya, membaca berkali-kali ayat yang ingin dihafal adalah cara paling mudah.

“Cara menghafalnya jangan dihafal dulu. Tapi Danu sering baca 40 kali sampai ayat itu gak asing lagi. Setelah itu baru menghafal, dibaca lima sampai sepuluh kali sudah langsung hafal. Yang penting dibaca dulu,” sarannya.

Dia juga mengaku senang menjadi santri Pesantren Takhasus Daarul Qur’an Kemang. kawan-kawan baik dan pengajar yang sabar sudah dianggapnya seperti keluarga.

“Teman-teman dan guru-gurunya bisa buat Danu enggak sedih kalau Danu lagi kangen ibu,” ucap lelaki berkulit sawo matang ini.

 

Penulis : Alfani Rossy Andini 

 

(drs)