Kakek kampanye bahaya narkoba

Agus Suwarno (69), seorang kakek asal Jepara menempuh perjalanan 549,5 kilometer dan menghabiskan waktu dua pekan berjalan kaki dari desa Dukuh Randu Sari, Jepara menuju Jakarta untuk bertemu Kepala BNN, Budi Waseso. Agus menyatakan ingin menghabiskan sisa umurnya untuk mengkampanyekan bahaya narkoba.

Dia mnuturkan kisahnya,bagaimana akhirnya memutuskan untuk melakukan perjalanan jauh dari Jepara ke Jakarta, pada tanggal 23 Januari-8 Februari. Raut sumringah tampak jelas dari wajah Agus Suwarno, saat Kepala BNN, Budi Waseso menerimanya di Gedung BNN. Kakek ini mendapatkan sebuah apresiasi berupa pin bertuliskan Penggiat Anti Narkoba yang disematkan langsung Kepala BNN.
Dalam pertemuan singkat ini, Agus yang pernah menjadi kuli panggul di Tanjung Priok ini menyampaikan aspirasinya tentang permintaan pembangunan kantor BNN Kabupaten di daerahya. Menurutnya, narkoba di daerahnya sangat mengkhawatirkan. Di daerahnya, ada seorang pelajar SD mengalami mabuk setelah menyantap pisang goreng ternyata telah dicampuri dengan narkoba. Selain itu juga betapa banyaknya pemberitaan tentang narkoba di media massa. Sehingga membuat hati Agus tergerak untuk melakukan aksi nyata menangkal ancaman narkoba.
Kepada Ketua BNN, Budi Waseso, Kakek ini menyampaikan keinginannya agar mendapat izin memberikan sosialisasi bahaya narkoba pada para pelajar. “Harapan besar tentu saya ingin agar generasi muda saat ini sama sekali tidak mengenal narkoba, sehingga tidak terjerumus,” harapnya.

Lebih lanjut, Agus, juga menyampaikan bahwa aksi nyata menangkal ancaman narkoba sudah dirintis di kampung halamannya, bersama dengan masyarakat sekitar dan telah membangun relawan pemberantas narkoba, demi menciptakan kawasan kampung bebas dari narkoba.

Usai pertemuan dengan Kepala BNN, Agus mengisahkan banyak kenangan didapatkan ketika melakukan perjalanan. Di Brebes dia dicegat oleh seseorang turun dari sebuah mobil ber-plat Jakarta. Pria misterius ini menawarkan uang sebesar Rp 10 juta, dengan syarat tidak melanjutkan perjalannya ke Jakarta. Namun Agus mengaku tidak tertarik dengan tawaran itu dan tetap pada komitmennya melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Dia mengaku, apa dilakukannya ini adalah sebagai wujud kampanye anti narkoba. Dengan harapan agar apa dia lakukan bisa menjadi jadi inspirasi bagi anak negeri lainnya, untuk melakukan hal konkret dalam upaya mencegah dan memberantas narkoba di Indonesia.

Kesadaran akan upaya mencegah narkoba pada dasarnya sudah muncul saat dirinya berkeliling Asean pada tahun 2006 silam. Saat itu, dia membawa misi perdamaian sambil mengkampanyekan bahaya narkoba. Pada waktu sebelum melakukan perjalanan keliling Asean dengan mengendarai sepeda.

Pada tahun 2016, Agus sempat mengalami masalah kesehatan cukup serius terkena penyakit di bagian syaraf, sehingga selama satu tahun tidak bisa bergerak. Saat sakit, dia mengucapkan nazar, bila sembuh akan berangkat ke Jakarta dengan berjalan kaki untuk menemui Kepala BNN.

Doa dipanjatkan terkabul. Saat merasa pulih, Agus mulai berlatih jalan kaki setiap pagi berkilo-kilo meter jauhnya. Dalam kondisi sebenarnya dilarang oleh dokter untuk berjalan kaki dengan jarak sangat jauh, akhirnya Agus tetap pada tekadnya, yaitu bertemu dengan Kepala BNN. Menyampaikan aspirasi penting tentang pentingnya memberantas bahaya narkoba. Ke depan dia berjanji untuk terus melanjutkan perjuangannya memberikan pencerahan pada masyarakat sehingga terbebas dari narkoba.

 

(drs)