Pemuda Membaca Al-Quran
Pemuda Membaca Al-Quran

Photo by Zaky

 

Islamilenia.com — Allah ciptakan semuanya berpasang-pasangan. Tangan sepasang, mata sepasang, telinga sepasang dan tentunya hati juga sepasang, meski beda tubuh. Sudah fitrahnya manusia hidup dengan pasangannya. Dalam surat Al-Baqarah, Allah sengaja ciptakan Hawa untuk menemani sang Adam.

 

Tujuannya, agar ibadah, kesucian hati, keluhuran budi tetap terjaga. Dari sana, tumbuh rasa ingin menjaga, memiliki, membahagiakan, menyayangi. Tak jarang, mereka yang dimabuk cinta, mau melakukan apa saja demi yang dia cintai.

 

Berderet kabar soal pengorbanan seorang manusia demi pasangannya. Dari Adam, yang rela tercampak dari Surga hanya demi membela kekasihnya. Hawa termakan hoax, ia percaya buah khuldi sebagai obat keabadian.

 

Hoax dari Iblis itu dimakan mentah-mentah oleh Hawa, ia memetik buah khuldi dan memakannya. Padahal, Adam tahu, jangankan memakan, mendekati pohon saja tak boleh. Namun, apa daya, namanya juga cinta.

 

Abad berganti, kisah Adam dan Hawa yang saling merindu akhirnya bertemu di Arafah. Lalu, dari sana juga, masyhur kisah Laila dan Majnun, kisah sepasang anak manusia yang saling merindu, bahkan syair Majnun selalu jadi kutipan favorit anak muda menggoda pujaan hatinya.

 

“Jika mencintaimu adalah dosa, biarlah aku kekal di neraka,”begitu syairnya.

 

Di dunia super cepat ini, saat kata-kata cinta tak perlu lagi dicatat di kulit onta. Cukup dengan video call saja, ada yang hilang dari diri manusia. Apakah benar-benar mencintai kekasih yang tepat? Kekasih yang mampu memperbaiki dirinya, menjadikan cinta itu sebagai semangat yang terus membara?

 

Nyatanya, kekasih-kekasih yang dicintainya hanyalah fana. Adam dan Hawa saling mencintai karena Allah, mereka termaktub dalam berbagai kitab suci sebagai manusia pertama yang dicipta. Apatah lagi cuma kisah Lalia dan majnun, yang sering dikutip para sufi. Hanya sebuah kisah sebagai pelajaran.

 

Lalu, siapakah kekasih manusia sejatinya?

Allah memberi gelar pada Baginda Rasulullah Muhammad Saw, sebagai Habibullah, kekasih Allah.

 

Nah lo!

 

Jadi, kabar baiknya bagi jomblo-jomblo yang menjaga hati, lidah, mata, dan perasaannya dari cinta yang fana, sebenarnya tengah memupuk rindu, menabung kasih sayang. Tuhan, adalah sesuatu yang sangat abstrak, tak ada yang mampu menjelaskannya, begitupun Rasullah. Namun, dari 25 rasul dan ribuan nabi yang diutus. Tuhan memberi bocoran tentang siapa dia, dan apa itu cinta.

 

Ia memberi kode dengan sifat-sifat-Nya yang agung, Tuhan memberi bocoran dengan “Surat Cinta” bernama firman. Beruntung, di zaman digital ini, surat cinta dari Allah tak lagi ada di tulang binatang, kulit onta, dan dalam ingatan. Surat Cinta itu sudah disempurnakan lewat wahyu pada Rasulullah Muhammad Saw. Namanya Al-Quran. Surat cinta itu sudah bisa anda unduh di telepon genggam sendiri.

 

Hari ini, sudah berapa kalikah anda membaca surat cinta dari Kekasih?
Sudahkah kerinduan itu dipupuk dengan syair, kisah, teladan, perintah dan larangan sang kekasih?

 

Jangan hanya patuh dan nurut pada pesan singkat dari pasangan yang mengingatkan makan, minum, bangun tidur dan hal lainnya. Namun, enggan melaksanakan perintah Allah, sang kekasih sejati. Hanya dia zat yang berhak atas segala puja dan puji, hanya Allah yang berhak atas semua kerinduan.

 

Jangan sedih, anda bisa memupuk rindu dengan rajin membaca surat cinta-Nya.

Jika cinta, pasti usaha.

 

Setiap manusia rela lakukan apapun untuk membuktikan rasa cinta. Mulai dari memberi hadiah, menjemput, mengerjakan sesuatu agar kekasih selalu tersenyum. Melihat kekasih bahagia, semua lelah dan kesulitan jadi tak ada artinya.

 

Namun ditengah – tengah kesibukannya seorang manusia, tentu sangat susah meluangkan waktu sebentar untuk bertemu dengan kekasih. Namun sebenarnya itu tak menjadi alasan. Karena jika kita mencintai sesuatu maka apapun akan kita lakukan.

 

Ya kekasih…., banyak sekali perjuangan seorang laki-laki ataupun perempuan yang menyayangi pasangannya rela untuk melakukan apa saja.

 

Begitupun dengan Al-Quran, keharusan kita menjadikan Al-Quran sebagai kekasih akan membuat kita rela dan berusaha meluangkan waktu untuk bertemu denganya walau sesibuk apapun itu, dan dimanapun itu. Merugilah bagi siapa yang meninggalkan Al-Quran.

 

Tidakkah anda sedih, melihat kekasih merindui anda. Sampai debu menutupi sampulnya, ia tak pernah anda sentuh. Padahal saat nyawa berpisah dengan badan, ayat-ayat cinta itulah yang akan dibacakan oleh orang-orang sekitar anda. Mereka meminta Allah melapangkan, menerangkan, memudahkan alam kubur Anda. Sementara, selama di dunia, anda biarkan sang kekasih tergeletak entah di mana di sudut  rumah anda.

 

Seperti halnya rindu yang menggebu-gebu jika long distance relationship. Maka mulai hari ini jadikan Al-Quran sebagai kekasih, sebagai pengobat rindu, tempat ketenangan dan kebahagiaan.
Egits Ahmad