Ilustrasi Becak, Sumber : Wikipedia

 

Islamilenia.com, Jakarta — Moda transportasi semakin beragam, dengan bantuan teknologi anda cukup memesan transportasi dari genggaman. Meski begitu, di Ibu kota Republik Indonesia, transportasi tradisional masih tetap bertahan meski sudah hampir menemui ajal.

 

Becak, transportasi yang dilarang Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di beberapa lokasi. Alasannya bikin macet dan tak elok dipandang. Namun, di wilayah Jakarta Barat yang berbatasan dengan Jakarta Utara, tepatnya di kawasan Teluk Gong. Becak masih jadi primadona ibu rumah tangga.

 

Amin (49) seorang pengemudi becak, masih percaya menggantungkan hidupnya pada Kayuhan pedal becak. Pukul 07.00 WIB, ia sudah berdiri di pertigaan pasar pagi kawasan Pejagalan. Menunggu ibu rumahtangga, dan para pembantu yang diperintah majikannya untuk belanja.

 

“Udah ada langganan tetap kalau pagi,” kata Amin di Teluk Gong.

 

Meski pelanggannya tak banyak serupa 20 tahun lalu, Amin tetap melakoni pekerjaan sebagai pengayuh becak. Apa hendak dikata, keahlian ia tak punya, usia sudah senja. Namun, dengan mengayuh becak, satu anaknya sudah sarjana.

 

“Yang sulung sarjana dari uang narik becak, sekarang dia yang biayain adek-adeknya,” kata Amin yang mengontrak bersama istrinya di kawasan Tambora.

 

Ia berkilah, tak mau jadi beban bagi empat anaknya di kampung.

 

Amin, tak sendiri. Ada Yatno (40) mantan buruh pabrik ini baru 4 tahun mencoba menarik becak. Usai di PHK, ia tak bisa ajukan lamaran kerja. “Udah lewat batas usia,” keluh Yatno.

 

Yatno di Jakarta sendirian, istri dan anak-anaknya berada di kampung. Ia malu untuk pulang, orang-orang kampung belum banyak yang tahu bahwa Yatno tak lagi kerja di pabrik makanan ringan.

 

Usai di PHK, ia mencoba peruntungan ke Jakarta. Malang di badan, Yatno pernah di jambret. Semua harta dibawa kabur begundal. Dalam kekalutan, Yatno akhirnya ditawari narik becak. Dengan sisa uang ditangan, ia beranikan diri membuat becak.

 

“Tapi, tarikan sepi, lebaran besok mau pulang, bertani di kampung,” ujar Yatno yang sudah 4 tahun tak pulang.

 

Semasa jadi buruh, ia bisa dua hingga tiga kali menjenguk anak dan istri. Kini, ia mengeja rindu di setiap Kayuhan becaknya.

 

Ada puluhan becak yang beroperasi di kawasan Teluk Gong, Tambora, dan Pejagalan. Mereka menawarkan harga yang murah untuk peluhnya. Jauh dekat, jika masih di kawasan Teluk Gong, mereka meminta Rp10.000 sampai Rp15.000 sekali jalan.

 

Jika jauh, harga bisa dinego. Tak ada tarif resmi. Para penarik becak ini hanya ramai kala pagi jelang siang. Lalu, mereka akan tidur dalam becak atau di emperan toko, menunggu senja datang.

 

“Kalau sore, biasanya rame lagi,” kata Yatno.

 

Akhir Januari tahun 2016 lalu, puluhan tukang becak mendemo Gubernur DKI Jakarta Ahok yang menjabat kala itu. Para penarik becak ini meminta Perda Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum dicabut sehingga mereka bisa mencari nafkah.

 

Transportasi tanpa polusi ini disepelekan, mereka dianggap tak layak untuk diberi akses untuk menarik becak di jalan-jalan Ibu Kota.

 

16 tahun lalu, Pemerintah Ibu Kota Republik Indonesia sempat menggelar operasi besar-besaran. Ribuan becak disita. Ratusan dipres dan jadi besi kiloan, ratusan lainnya di tenggelamkan, sisanya dipulangkan bersama tukang becaknya sekalian.

 

Kini, setelah operasi besar-besaran pada tahun 2001 itu. Becak tetap bertahan dalam diam. Mereka beroperasi di jalan-jalan kecil, di gang-gang pemukiman padat. Membantu para ibu rumahtangga membawa belanjaannya dari pasar. Tak jarang juga mereka adalah pilihan terakhir para pengguna jasa transportasi di Jakarta.

 

Nilai Tambah Bagi Tempat Wisata Jakarta

 

Keberadaan becak pernah dihuni hanguskan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 2001 lalu. Ribuan becak disita, ratusan dipres jadi besi kiloan, ratusan lainnya ditenggelamkan ke dasar laut, selebihnya dipulangkan bersama dengan penarik becaknya.

 

Becak sudah resmi dilarang oleh Pemerintah Jakarta, meski awal Januari 2016 lalu, puluhan tukang becak mendemo Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, kala itu. Namun, Perda Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum tak jua dicabut atau direvisi.

 

Becak sejatinya, masih dipakai oleh kalangan warga kelas menengah ke bawah. Ibu rumahtangga jadi pelanggan tetap becak, mereka terbantu saat usai belanja dari pasar tradisional. Namun, di Jakarta becak-becak ini beroperasi hanya di kawasan tertentu, rata-rata di kawasan padat penduduk. Mereka hanya melayani rute gang-gang kecil saja.

 

“Memang di sana peruntukannya, kalau jalan raya becak memang bisa membahayakan pengguna jalan lain dan diri mereka sendiri,” ujar Direktur Institut Studi Transportasi (INSTAN) Darmaningtyas.

 

Instan merupakan LSM yang fokus pada persoalan transportasi bahkan tetap memproduksi becak hingga akhir 2014 lalu. Darmaningtyas mengatakan, becak sejatinya dapat menjadi daya tarik wisata tersendiri jika dikelola dan diatur dengan baik.

 

“Mereka ini transportasi ramah lingkungan, tanpa polusi, dan memang cocok bagi lingkungan Jakarta yang bergang-gang,” jelas Darmaningtyas.

 

Ia memang sependapat dengan aturan Pemerintah soal larangan di jalan raya. Namun, jika becak dioperasikan di kawasan padat penduduk, tentunya membantu warga.

 

Terlebih, jika becak-becak itu dioperasikan di kawasan wisata. Daya tarik dari transportasi itu akan memberi nilai tambah bagi objek wisata itu sendiri.

 

“Mereka kan bebas polusi, kalau diatur dengan baik, tempat-tempat wisata di Jakarta akan semarak dengan becak,” katanya.

 

Darmaningtyas menyebut, kawasan Kota Tua, Ragunan, dan Taman Mini Indonesia bisa jadi tempat operasi becak. “Tentunya dengan aturan yang jelas,” jelas Darmaningtyas.

 

Darmaningtyas mencontohkan pengaturan operasi becak di Yogyakarta. Menurutnya, Jakarta bisa meniru apa yang ada di Yogyakarta. Sehingga wisata murah, meriah dan menarik bisa membuat pengunjung makin nyaman.

 

“Para pengunjung bisa menikmati kawasan wisata dengan naik becak, apalagi becak angkutan ramah lingkungan,” ucap Darmaningtyas.

 

(Ed/2)