وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar . Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami,” (QS. As-Sajdah (32) :24)

Jiwa pemimpin selayaknya dimiliki oleh tiap pemuda. Hal ini menjadi penting saat terjun di masyarakat atau sebuah organisasi, lembaga maupun di dunia kerjaan. Sikap kepemimpinan ini menjadi salah satu modal kesuksesan seseorang.

Jiwa pemimpin yang sukses dalam kepemimpinannya biasanya lahir dari tradisi ketaatan sebagai bawahan yang baik sebelumnya. Melalui proses itu dia menjadi faham akan kebutuhan sebagai bawahan.

Selain itu juga belajar untuk mengenal karakter berbeda serta kecenderungan beragam dari bermacam pribadi di sekitarnya, sehingga melahirkan kecerdasan kepemimpinan (leadership) mumpuni secara alamiah, di samping kemampuannnya dalam memahami Al Qur’an dan Sunnah sebagai modal utama dalam melaksanakan tanggungjawab kepemimpinan.

Salah satu pemimpin muda pada zama Rasulullah SAW yakni, Usamah bin Zaid bin Haritsah. Siapa Usamah? Ternyata dia seorang masih muda, belum lagi melampaui usia dua puluh tahun.

Namun seperti itulah rupanya cara Nabi menanamkan kepercayaankepada para sahabatnya, dan membangkitkan semangat para pemuda Islam untuk bersiap menjadi pemimpin kapanpun diperlukan, tanpa harus diminta apalagi menawarkan diri, mengingat tanggungjawab seorang pemimpin yang sangat berat.

Prinsip sami’na wa atho’na kepada Allah, kepada Rasulullah dan Ulil Amri maka menjadi mungkin dan ringan persoalan memimpin bagi siapapun. Inilah gambaran Rasulullah SAW akan hakikat ketaatan itu.

“Siapa taat kepadaku, maka sungguh taat kepada Allah. Barangsiapa memaksiyati aku maka sungguh telah memaksiyati Allah. Barangsiapa mentaati amirku (pemimpin), maka sungguh telah mentaati aku, dan barangsiapa memaksiyati amirku maka sungguh dia telah memaksiyati aku,” (HR.Al-Bukhari).

Menjadi pemimpin mungkin sulit dan berat karena besarnya tanggungjawab harus dipikul, tapi menjadi pengikut/bawahan tidak kalah sulitnya, karena harus terlebih dahulu mengalahkan hawa nafsu memandang pemimpin bukan sekedar sebagai pribadinya semata, tapi sebagai perpanjangan ‘tangan’ Allah dan RasulNya untuk ditaati.

Sebab itu sepantasnya kita berupaya maksimal untuk mentaati para pemimpin, selama mereka memerintahkan kepada bukan maksiat. Dukunglah dengan tenaga, harta serta pemikiran membangun. Selain itu bersabar atas berbagai kekurangan pemimpin, sambil terus meningkatkan nilai diri kita dengan Al Qur’an dan Hadits.