Baca Alquran:  Foto Abrar / Islamilenia

 

Pada saat itu huruf-huruf hijaiyyah belum bertitik, apalagi berharokat, bahkan masih banyak kata-kata yang bersambung. Proses pelestarian dan tujuan berdakwah melahirkan kebutuhan baru untuk menyempurnakan tulisan. Berangsur-angsur aturan ditetapkan untuk menyambungkan banyak huruf Arab.

Sampailah masa di mana huruf hijaiyah sudah lebih rapi dan tersusun dari sebelumnya. Namun penulisan model seperti ini menyebabkan banyak sekali kesalahan baca dilakukan oleh orang-orang diluar Arab. Ya bayangkan saja, pada saat itu Al-Quran tidak bertitik apalagi berharokat.

Kemudian, langkah selanjutnya adalah membuat syakl (harokat) yaitu Pada awal abad ke-7 M, pada masa Daulah Umawiyah, Ziyad Bin Abi Sufyan meminta kepada seorang ahli Bahasa Arab, Abu Aswad Al-Duali untuk menciptakan syakal untuk mempermudah membaca Al-Quran dan meminimalisir kesalahan baca. Tanda baca diciptakan berupa titik-titik. Semisal, titik satu disebelah kiri huruf berarti dhammah (u), seperti tulisan(ط) maka dibaca thu. Titik satu tepat di atas huruf berarti fathah (a). Titik satu tepat di bawah huruf seperti kasrah (i). Bila titik didobelkan (dua titik) maka fungsinya menjadi tanwin (un, an, in).

Kemudian, Pada pemerintahan Abdul Malik Bin Marwan (685-705 M) seorang gubernur bernama Al-Hajjaj Bin Yusuf Al-Tsaqafi meminta Nasr Bin ‘Ashim dan Yahya Bin Ya’mar untuk memberi tanda pada huruf-huruf sama bentuknya tapi berbeda ejaan. Nasr dan Yahya selanjutnya menciptakan tanda berupa garis-pendek yang diletakkan di atas atau di bawah huruf. Garis pendek itu bisa satu, dua atau tiga. Misalnya, ba’, diberi satu garis pendek di atas huruf, tsa’, diberi tiga garis pendek di atas huruf, dan seterusnya.

Bila garis-pendek berjumlah tiga, maka satu diletakkan di atas dua garis pendek berjajar. Garis-pendek berfungsi untuk membedakan huruf ini justru dibuat dengan tinta sama dengan tinta untuk menulis huruf, hitam. Tanda titik dan garis-pendek tetap dipakai selama pemerintahan Bani Umayyah sampai awal pemerintahan Abbasiyah ±685-750 M.

Setelah beberapa waktu, aturan penandaan titik dan garis pendek mengalami perubahan. Munculnya keluhan dari para pembaca Al-Quran mengenai banyaknya tanda harus disandang huruf-huruf dalam ayat Al-Quran dianggap menyulitkan,

Kesulitan ini menggerakkan seorang ahli tata Bahasa Arab (nahwu/sintaksis), Al-Khalil Bin Ahmad (w. 170 H) mengadakan perubahan. Al-khalil membalik fungsi tanda-baca tanda-baca diciptakan Abu Aswad dan Nasr-Yahya.

Titik-titik awalnya merupakan harakat sekarang dijadikan tanda untuk membedakan huruf yang berbentuk sama namun berbeda ejaan. Dan untuk tanda baca (syakal/harakat) al-Khalil mengambil dari huruf-huruf yang menjadi sumber bunyi (huruf vokal). Alif sebagai sumber bunyi ‘a’. Ya’ sebagai sumber bunyi ‘I’. Wawu sebagai sumber bunyi ‘u’. Kepala kha’ sebagai tanda mati (sukun).

Tanda-tanda ciptaan Al-Khalil banyak yang menjadi dasar untuk tanda-tanda dalam tulisan Arab sampai sekarang. Proses penyempurnaan huruf-huruf hijaiyah ini terjadi sampai abad ke-8 M. Tulisan atau huruf Arab sudah mengalami proses perubahan dan penyempurnaan itulah yang sekarang dipakai sebagi huruf Arab resmi internasional.
Kontributor : Ahmad Al-Darius