Anak - Anak Sedang menghafal Quran
Anak - Anak Sedang menghafal Quran
Bocah Penghapal Alquran/ Alfani

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al Qur’an dan mengajarkannya”.

Bertandang ke Bobanehena adalah kali pertamaku menginjakkan kaki di tanah Indonesia Timur. Tepatnya di Halmahera Barat, Maluku Utara. Sebuah desa harus dilalui dengan motor speed boat (perahu cepat) ditempuh sekitar satu jam dari Pelabuhan Dufa-Dufa, Ternate. Melalui PPPA Daarul Qur’an memberiku kesempatan melihat keindahan laut, di bibir pantai dengan bukit-bukit berjajar sepanjang penglihatan mata. Rasa syukur memuncak saat menyaksikan dan mendengar anak-anak umurnya terpantau jauh dari usiaku sedang semangat menghafal Alquran.

Dada ini panas, nafasku tetiba sesak mendapati pemandangan belum pernah aku lihat sepanjang perjalanan hidup ini. Menyesali waktu terbuang sia-sia. Sementara, bocah-bocah kecil di pelosok Timur Indonesia punya hafalan Alquran minimal 1 juz. Tiga hari di Bobanehena waktu yang amat berkesan. Pertemuanku dengan santri-santri penghafal Quran dan orang-orang hebat menginspirasi pasti bukan kebetulan. Melainkan sudah diatur Allah SWT.

Begitu banyak pelajaran hidup bagiku, melihat anak-anak kecil duduk di tepi pantai sembari berkomat-kamit melantunkan ayat-ayat Alquran mereka ulang agar cepat diingat. Kemudian, saya bertemu Pak Sofyan Labuha (40), seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) mewakafkan sebagian tanahnya untuk didirikan Rumah Tahfizh Bobanehena. Kini tanah itu jadi tempat anak-anak mendaras Alquran setiap harinya.

Pak Sofyan pernah diduga membuat pengajian teroris. Namun seiring berjalannya waktu, anak-anak ataupun cucu dari warga sempat berprasangka buruk itu saat ini mengaji di Rumah Tahfizh Bobanehena. “Awalnya sempat putus asa. Tapi saya coba kuatkan diri. Saya berusaha menjelaskan ke orang tua mereka, bahwa pengajian ini bukan pengajian teroris. Alhamdulillah, sekarang masyarakat di sini sudah menerima,” ujar lelaki paruh baya berkepala pelontos itu.

Pak Sofyan adalah orang paling terakhir berwudhu saat adzan berkumandang di Rumah Tahfizh Bobanehena. Sebab, ia harus memastikan seluruh santri melaksanakan salat berjamaah. Cita-citanya adalah membangun pesantren di tanah Halmahera Barat. Kepedulian Pak Sofyan terhadap generasi muda di desanya mengetuk hatiku selama ini terlalu egois memikirkan kebahagiaan diri sendiri. Malu, diusiaku sudah berkepala dua ini belum bisa berbuat apa-apa.

Belum selesai kegalauanku mendegar cerita Pak Sofyan. Lagi-lagi perasaanku kembali terkoyak saat menyimak kisah Ahmad Try Indrawan, remaja 18 tahun. Lulusan Pesantren Tahfizh Daarul Quran Cariug, Bogor. Wawan sapaan akrabnya, Insya Allah hafizh Quran 30 juz ini mengabdikan dirinya mengajar anak-anak Bobanehena mengaji dan menghafal Quran. Ia rela melepas kesempatannya mendapat beasiswa jadi mahasiswa kedokteran di salah satu universitas di Semarang.

Sementara aku diusianya kala itu, sibuk mencari universitas-universitas ternama agar bisa bersaing dengan teman-teman satu angkatan. Tak pernah terlintas membaktikan diri untuk masyarakat, berjuang membangun peradaban Islam dari akar rumput.

Ada lagi cerita dari Fathur Rahman (26), pemuda lulusan Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor dan Al Ahgaff University, Yaman juga rela mendedikasikan diri untuk membuat bocah-bocah di pelosok Timur kini terkenal dengan Wisata Religinya ini punya hafalan Quran.

Ucap syukur tiada henti kepada Allah SWT mempertemukanku dengan para pejuang dakwah. Memberikanku pelajaran hidup untuk menjadi pribadi yang tidak hanya memikirkan kesenangan diri sendiri. Berpikir membangun generasi muda untuk mencintai agama islam sebagai agamanya dan menyimpan Alquran di dalam hatinya.
Penulis : Alfani Rossy Andinni
drs