Seorang pengendara motor saat melintas di depan Masjid Jamik Bengkulu.

Provinsi Bengkulu mungkin saja belum banyak yang mengenalnya, akan tetapi pasti Anda mengetahui bunga Rafflesia Arnoldi bukan? Ya bunga tersebut banyak tumbuh di Provinsi Bengkulu meskipun di tempat lain juga tumbuh, namun bunga Rafflesia Arnoldi pertama kali ditemukan oleh Sir Thomas Stanfort Raffles (seorang Gubernur Jenderal Inggris) di Desa Pulau Lebar Kabupaten Bengkulu Selatan. Provinsi Bengkulu tidak hanya memiliki bunga Rafflesia yang menjadi icon, akan tetapi banyak juga memiliki obyek wisata alam misalnya seperti Pantai Panjang, Pantai Zakat, Danau Dendam tak Sudah, Sungai Suci, dan lain-lain.

Provinsi Bengkulu terletak di sebelah barat pegunungan Bukit Barisan, memanjang dari perbatasan Provinsi Sumatera Barat sampai ke perbatasan Provinsi Lampung. Secara administratif, provinsi ini terdiri dari sembilan kabupaten yaitu Kabupaten Bengkulu Selatan, Bengkulu Tengah, Rejang Lebong, Bengkulu Utara, Kaur, Seluma, Muko-Muko, Lebong dan Kepahiang, serta satu kota, yaitu Kota Bengkulu yang sekaligus merupakan Ibu Kota provinsi ini.

Ternyata Bengkulu tidak hanya memiliki obyek wisata alamnya, namun juga memiliki obyek wisata religi. Salah satunya adalah Masjid Jamik peninggalan dari Presiden Soekarno. Masjid ini berkaitan dengan masa pengasingan Bung Karno di Bengkulu pada tahun 1930. Pada saat itu Bung Karno yang menjadi seorang insinyur yang merenovasi masjid tua yang ada di jantung dan tengah padang Kota Bengkulu. Masjid tersebut dinamakan dengan Masjid Jamik atau biasa dikenal dengan sebutan Masjidnya Bung Karno.

Renovasi masjid dilaksanakan pada 1938 dengan Ir. Soekarno sebagai arsiteknya dan yang mengawasi proses pemugaran dan memilih bahan-bahan yang digunakan. Alhasil, jadilah seperti sekarang Masjid Jamik yang menjadi obyek wisata religi yang banyak dikunjungi wisatawan saat mampir ke Bengkulu.

Merujuk pada sejarah dan data-data dari berbagai sumber, masjid ini dahulunya dibangun di Kampung Bajak, dekat dengan pemakaman Sentot Ali Basya yang merupakan teman seperjuangan Pangeran Diponegoro yang dibuang Belanda ke Bengkulu. Kemudian pada awal abad ke-18 masjid dipindahkan ke lokasi sekarang. Bangunan awal berbentuk sangat sederhana, yakni terbuat dari kayu, beratapkan daun rumbia, dan keadaan lantai yang sederhana. sebagai arsitek yang merenovasi bangunan masjid, Bung Karno tetap mempertahankan bangunan aslinya. Yang dirancang atau diubah Bung Karno adalah tiang-tiang dan bagian atap. Atapnya berbentuk tumpang tiga dengan atap tingkat dua serta tiga berbentuk limasan kerucut dengan celah pada pertengahannya. Dan ukiran atau pahatan pada tiang berbentuk sulur-suluran di bagian atas.

Masjid ini terdiri atas tiga bangunan yang menyatu, yaitu serambi, ruang utama, dan tempat wudhu. Lantai serambi nya terbuat dari ubin teraso putih, sedangkan pintu serambinya berjumlah dua dengan bahan teralis besi juga. Di belakang bangunan serambi terdapat ruang utama yang memiliki 3 pintu dan masing-masing berdaun dua. Pada ambang pintunya, terdapat hiasan kaligrafi ayat Al-Qur’an. Ruang ini ditopang batu yang terbuat dari pasangan batu.

Masjid Jamik Bengkulu terletak di jantung Kota Bengkulu, tepatnya di Jalan Letjen Soeprapto kelurahan pengantungan, Gading Cempaka, Bengkulu. Jaraknya yang sangat dekat dengan kota dan tentunya sangat strategis membuat banyak kendaraan yang bisa dijadikan alternatif menuju ke lokasi, seperti ojek, angkot, taksi, dan semacamnya. Cukup menggunakan motor ataupun angkot kita sudah bisa menikmati seluruh pemandangan Kota Bengkulu dengan ongkos sekitar Rp5.000- Rp10.000 saja. Selamat berwisata ke Masjid Jamik Bengkulu! (*)

Reporter : Haqqi Annazilli

Editor : Sobirin