Take by Aldi H.S

Photo by Aldi H.S

 

Zaman digital sekarang dan banyaknya sosial media memudahkan kita untuk mengabadikan moment atau mengunggahan foto. Tren saat ini sering kita jumpai postingan makanan yang dapat membangkitkan selera bahkan bisa jadi diantara kita sampai ada yang “ileran” atau menusuk ke rahang.

 
Sebagian orang bisa makan di tempat yang mewah, berkelas dengan harga yang tidak mudah dijangkau oleh kalangan lain. Kesempatan memposting makanan sebelum disantap, dikumpulkan terlebih dahulu, lalu dirapihkan, mencari sudut yang bagus untuk diambil gambarnya. Menjadi sebuah kepuasan dan kebanggaan rasanya bisa memposting makanan yang lucu, mahal dan penampilan yang bagus.

 
Lalu, apakah benar menggungah makanan ke media sosial itu bagi sebagian orang dikatakan tidak layak, tidak baik? Ataukah biasa saja? Ada yang bilang “kalo itu sih masing-masing orang niatnya kaya gimana”. waduhh repot juga kalo kaya gitu.

 

Yuk kita coba kunjungi sejenak hadits yang nampaknya serupa dengan fenomena tersebut, diantaranya:
Dari Ikrimah, Ibnu Abbas mengatakan, “Sesungguhnya Nabi melarang untuk memakan makanan yang dimasak oleh dua orang yang berlomba” HR Abu Daud

 

Ulama menafsirkan hadits ini yaitu dua orang yang berlomba dalam menjamu tamu dengan maksud agar yang satu dapat mengalahkan yang lain, dengan tujuan ria (inggin dipuji) disanjung dan pamer.

 

Kasus diatas memang bukan perlombaannya karena tidak relevan dengan zaman saat ini. Dan meski tidak ada dalil dan larangan terkait memposting makanan ke media sosial, melainkan dampaknya itu sendiri, yaitu ria, pamer dan ingin dipuji.

 

Menurut Dr. Iiz Izmudiin MA Mengunggah makanan secara hukum tidak bertentangan namun secara etika moral dan tawhid bertentangan, mengapa? karena israf dan tabzir. Sementara israf dan tabzir temannya syetan. Terus kenapa sifat israf dan tabzir disebut teman (ikhwan) syetan, karena cenderung angkuh, ya diantaranya sifat pamer. Hal itu berbeda halnya dengan tujuan informasi, usaha atau berbisnis (marketing).

 

mari coba berhenti dan hindari berfikir tak peduli dengan berkata ” Lah itu urusan dia”, rasanya tidak ada salahnya untuk tidak membuat orang untuk bersifat iri.

 

Karena pertanyaan besarnya ialah apa tujuan mempublikasikan makanan? ingin menunjukan ke orang lain? coba kita tengok hadist ini.

dalam riwayat Muslim, dari Abu Dzar, dia berkata: “Sesungguhnya kekasihku berpesan kepadaku: ‘Jika engkau memasak masakan berkuah, perbanyaklah kuahnya, kemudian lihatlah anggota keluarga dari tetanggamu, maka berikanlah kepada mereka dengan baik.’”

 

Rasullulah mengajarkan untuk membagi makanan, bukan mempublikasikan makanan. Karena Masih banyak saudara saudara kita, rekan, kerabat kerja kita yang mungkin sedang kesusahan. selain harus menjaga perasaan pasangan kita maka perasaan orang lain juga perlu kita jaga. zaman sekarang zaman “baper”, jadi alangkah lebih berhati-hati dan selalu peduli terhadap sesama saudara.

 

Egits Ahmad