Oleh: Muhammad Fanshoby

Rasanya aneh jika di antara kita tidak pernah melakukan itu. Hampir semua orang, utamanya mereka yang lahir di tahun 90-an sampai 2000-an akrab dengan media sosial. Beberapa akademisi pun menyebut mereka dengan generasi Y-Z atau generasi milenial. Apapun sebutannya, mereka yang tumbuh-kembang beriringan dengan koneksi internet, niscaya familiar dengan media sosial.

Namun, ternyata apa yang sekarang kita sebut media sosial sudah ada sejak Gutenberg menciptakan mesin cetak di tahun 1450 Masehi (Briggs & Burke, Sejarah Sosial Media: 2006). Sebuah langkah besar yang dilakukan oleh Gutenberg menjadikan teks tidak hanya dimiliki kalangan intelektual, tapi dapat menjadi alat propoganda yang bisa dimiliki siapa pun dari masa ke masa. Hadirnya mesin cetak yang dapat menduplikasi berbagai teks itu mampu menyebarkan pesan-pesan propoganda hingga ilmu pengetahuan. Karena aktivitas propoganda, penyebarluasan informasi, serta ilmu pengetahuan dan pemahaman pada waktu itu melalui media sosial yang sifatnya masih tradisional.

Memang pada masa itu, belum disebut secara epistimologis dengan istilah media sosial. Namun, tindakan menduplikasi teks melalui media cetak secara tradisional memiliki fungsi seperti halnya media sosial. Yaitu propoganda, penyebarluasan informasi dan bertukar ilmu pengetahuan. Hal itu memungkinkan setiap orang mampu memaknai sebuah pesan dan membantunya mendapatkan informasi atau pengetahuan. Sehingga McLuhan pun mengemukakan bahwa memaknai pesan tidak hanya melalui isi pesan semata, namun alat untuk menyampaikan pesan pun merupakan bagian integral dari pesan itu sendiri.

Munculnya mesin cetak menjadikan aktivitas duplikasi teks semakin mudah. Belakangan buku dengan mudahnya dicetak dan diperbanyak. Fungsi media sosial sebagai alat propoganda, penyebarluasan informasi dan bertukar ilmu pengetahuan semakin berkembang. Pada masa itu arus informasi menjadi deras. Buku bertebaran di sana-sini, hingga seorang penyair Inggris pada masa itu, Andrew Marvell mengatakan, “Wahai percetakan! Bagaimanapun engkau telah mengganggu ketenangan hidup manusia.” Ini seolah-oleh menjadi awal ledakan informasi kala itu.

Tapi itu dulu, pada abad 21 ini ledakan informasi kembali terulang. Kali ini arus informasi semakin deras sehingga kita hampir kesulitan membendungnya. Dengan adanya koneksi internet, orang mudah menyebarkan informasi dan dengan mudah pula mendapatkan informasi. Melalui apa yang sekarang kita sebut media sosial seperti facebook, twitter, instagram, whatsapp, line, dan lain sebagainya, setiap individu bebas melakukan propoganda hingga penyebarluasan informasi dan bertukar pengetahuan.

Situasi ini membuat kita perlu ikut andil menyebarkan informasi dan mendapatkan informasi juga melalui media sosial yang kita miliki. Bahkan ada beberapa orang kerap menggunakannya sebagai alat propoganda untuk memengaruhi orang lain. Tapi itulah cara kerja media sosial. Kita tidak bisa menahan arus informasi yang semakin deras. Setiap individu hanya dianjurkan untuk memiliki perisai akal sehat untuk mengeliminasi informasi yang tidak dibutuhkan.

Selain itu, media sosial ternyata menjadi cermin dari apa yang sebenarnya kita inginkan dari diri sendiri. Media sosial menjadi alat kampanye untuk mencitrakan diri seperti apa yang kita inginkan. Jika ingin terlihat pintar, sering-seringlah posting tentang buku, jika ingin terlihat tampan atau cantik, mulailah bersolek acapkali tampil di media sosial, begitu seterusnya.

Hal itu muncul karena pada dasarnya manusia telah menyadari keadaan dirinya. Karena diri kita adalah unik. Seperti yang dikatakan Heidegger, “Diri kita adalah entitas yang harus dianalisis.” (Magee, The Story of Philosophy: 2008). Begitulah saking uniknya diri kita, maka perlu dianalisis dan ditelaah. Untuk menganalisis itu, kita memerlukan cermin sebagai jendela untuk melihat diri sendiri. Cermin itu sekarang bernama media sosial.

Manusia menyadari dirinya sebagai sesuatu yang eksis. Maka kita kerap mendengar media sosial sebagai bentuk eksistensi diri bahwa dirinya perlu diakui oleh orang lain. Kesadaran tentang eksistensi diri ia ejawantahkan melalui media sosial. Dari sana, individu dapat menyadari identitas dirinya sebagai sebuah masalah. Lalu berharap dengan menyelidiki eksistensi dirinya, maka ia akan dapat menyingkap makna di dalam kehidupannya sendiri.

Begitulah kiranya mengapa orang perlu update status, nge-twitt, sampai posting instagram. Selain sebagai alat untuk propoganda, menyebarluaskan informasi, dan berbagi pengetahuan, media sosial juga sebagai alat menunjukkan eksistensi individu yang bertujuan untuk menganalisis diri sendiri. Dari sini kita perlu ada dan sadar tentang identitas diri sebagai sebuah pengakuan dari orang lain. Maka kita kerap gembira apabila mendapat “like” lebih banyak atau “favorit” lebih sering. Itu sebagai sebuah pengakuan orang lain terhadap eksistensi diri kita sendiri.