Menjadi jurnalis bukan hanya butuh kemampuan menulis saja. Lebih jauh dari itu, semangat serta mental juga diperlukan.

Bahkan, harus rela jauh dari keluarga. Menyita waktu seakan jam itu tak berlaku. Selama tugas belum tuntas sang wartawan tetap berjibaku dengan berita meski hari sudah malam.

“Ketika Anda memutuskan jadi jurnalis. Ketika itu juga harus siap meninggalkan keluarga. Karena kerja wartawan jam-nya (waktu) enggak jelas. Berangkat bisa pagi bangat, bisa siang, bahkan bisa enggak pulang,”ujar Sekjen Ikatan Jurnalis UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Salahudin Al ayubi dalam acara upgrading news DNK TV di Ciputat, Banten, Jumat ( 21/4/17).

Bukan hanya itu, lanjut pria berkacamata ini, jurnalis (reporter) harus punya peralatan ‘perang’ di lapangan, yakni smartphone untuk kinerja koordinasi dengan orang kantor (Korlip) saat meliput. selain itu juga untuk menulis berita maupun mewawancarai, merekam narasumber.

“Jurnalis wajib punya handphone, minimal 2, dan enggak boleh mati
smartphone. Kalau mati bisa kena omelan dari Korlip,” ungkap dia.

Pria yang akrab disapa Yubi ini menambahkan, selain keberanian dan mental jurnalis menghadapi narasumber dan kondisi di lapangan. Wartawan juga seharusnya banyak baca buku dan memperluas wawasan, sehingga berdampak pada mutu tulisan/ isi berita berkualitas.

“Modal dasar jurnalis itu menjadi pembaca yang baik. Banyak baca buku. Buku apa ajah. Sehingga tulisan yang dihasilkan bermutu dan enak dibaca,” tuturnya.

Lanjut dia, membaca buku perlu bagi seorang jurnalis, baik online, cetak mapupun televisi. Dari bacaan jurnalis nanti bisa diketahui kemampuan (minat) sang pencari berita tersebut.

“Ketika daya baca menguat, ini bakal berdampak kepada teman-teman yang berporfesi jurnalis. Dari situ ketahuan keahlian, penguasaan suatu isu yang dia tulis atau laporkan,” papar Yubi.

Lebih jauh, wartawan Bisnis Indonesia ini mengatakan dari minat membaca buku akan terlihat kualitas jurnalis tersebut. Hal ini bisa dilihat dari tulisan. “Di situ kelihatan wartawan tulisan ngasal apa enggak,” beber Yubi.

Yubi menegaskan, jurnalis khususnya reporter di lapangan harus terus belajar menulis. Sehingga daya kemampuan menulis bisa terasa seiring waktu berjalan.

“Reporter jangan ngandelin editor. Tulisan belum bagus, terus belajar. Karena tulisan bagus atau enggak bakal berdampak kepada pembaca,”kata Yubi.

“Kita dilatih gimana caranya meminimalisir editing gambar atau tulisan. sehingga sedikit diedit. Itu meringankan beban editor. Melatih diri biar mantep menulis,” imbuhnya.

Selain jurnalis online dan cetak. Ada juga jurnalis televisi yang harus berjuang menembus narasumber demi sebuah berita.

“Biasanya jurnalis televisi kendalanya itu pencarian narsum. Kendal mereka pencarian dan mendapatkan narasumber,” katanya.

Semisal mendapatkan gambar narasumber saat diwawancarai. Jika telat alhasil jurnalis televisi tersebut harus mengambil kembali gambar. Bisa jadi dengan narasumber yang berbeda jika narasumber pertama tidak bersedia lagi diwawancarai.

“Ada kasus dulu pada Piplres 2014. Wartawan televisi ini telat datang. Dia minta salinan gambar (copy paste) dengan jurnalis televisi lain. Alhasil bermasalah. Ini tidak sepatutnya dilakukan dalam kegiatan jurnalistik,” jelas Yubi.

Yubi juga menceritakan,menjadi jurnalis itu tidak selamanya menderita tiap hari mengejar berita. Liputan siang dan malam, telat makan dan pulang tanpa waktu jelas.

“Enak jadi wartawan itu, ketika dapat tugas liputan ke luar kota. Enggak keluar duit, bebas biaya (diongkosin). Naik pesawat gratis. cuma nyiapin badan yang fit. Semu difasilitasin,” ucap Yubi yang mengaku pernah keliling nusantara selama jadi jurnalis.

“Itu liputan sekaligus liburab, dapet tugas ke luar kota bahkan ke luar negeri.Ini memacu semangat jadi wartawan,” sambung Yubi.

Menjadi jurnalis, masih kata Yubi, bakal mendapatkan kenalan banyak. Mulai dari rakyat biasa sampai para pejabat di manapun

“Kerja jadi wartawan bakal dapat keuntungan punya jaringan (kenalan) yang luas, punya kawan dari Sabang sampai Merauke. Nah, ini lah keuntungan jadi wartawan, banyak teman, banyak jaringan dan wawasan,” tutup pria keturunan Betawi ini.

 

Penulis : drs