sandal jepit pernah menjadi “kapal pesiar” bagi bocah-bocah desa. Dahulu, sawah masih terbentang luas, saluran air masih banyak. Deras hujan membuat para bocah keluar rumah dengan telanjang dada

Pesan emak pun dihiraukan. “Nak hujan, nanti sakit,” kata emak. Namun, bocah itu tetap membandel keluar rumah bermain air hujan. Pertama yang dicari sang bocah itu adalah sandal jepit. Ya sandal jepit bapak yang tak terpakai

Derasnya air hujan membuat saluran air disulap menjadi water boom. Dari ujung jalan terlihat sang bocah itu melepas sandal jepit punya bapak.

Seketika ‘kapal pesiar’ itu melaju mengikuti aliran air yang deras. Sesekali sandal jepit itu menghantam sampah-sampah yang memenuhi got.

Bocah merojok got itu dengan sebatang kayu. Berharap kapal pesiarnya bisa melaju kembali sampai ke pematang sawah.

Tak terasa hujan pun berhenti. Aliran air seketika menyurut. Kapal pesiar itu kini tak bisa jalan dan melaju

Jika sudah begitu, para bocah kembali ke rumah dengan celana basah.

Sesampai di rumah. Emak menjewer kuping bocah itu, sambil berkata, “mana sandal bapakmu yang biasa dipakai ke mushola?,” tanya emak.

“Mak, ada di pematang sawah, tadi dipakai buat main kapal-kapalan,”.

Hari sudah magrib, ‘kapal pesiar’ itu kini mengambang di tengah genagan air sawah

Seperti kapal tak ada pemiliknya. Entah lah sekarang ‘kapal pesiar’ itu seakan menjadi mainan langka di kala hujan karena sawah sudah disulap dengan bangunan.

Aliran got (irigasi) pun kini dipenuhi tumpukan sampah dan limbah, tak mungkin kapal pesiar (sandal jepit) itu bisa melaju kencang. Bahkan sudah menyatu dengan tumpukan sampah.