Diah Saadiah dengan Anak Pertama Lulusan Doktor
Diah Saadiah dengan Anak Pertama Lulusan Doktor

Ibu Diah kelahiran Pandeglang Banten 65 tahun lalu adalah salah satu dari sekian banyak ibu yang memiliki buah hati dalam jumlah banyak. Beliau dikaruniai 8 orang anak.

 

Setelah kelahiran anak terakhir yang masih berumur 10 bulan Allah memanggil sang suami tercinta. Mulai saat itu Beliau menjadi tulang punggung keluarga untuk para anak-anaknya. Mulai dari menjual kue-kue kecil, pakaian, dan es dilakoninya. Sudah 26 tahun Ibu Diah hidup tanpa suami namun itu tak membuat beliau putus asa. Perlahan-lahan membangun usaha. Namun pasti ada pasang surut dalam setiap pekerjaan.

 

Unik juga, Ibu Diah ini juga tiap kali memasak lauk, sengaja diberikan garam lebih agar anak-anaknya makan dengan lauk yg sedikit karena keasinan, itu untuk mensiasati agar cukup untuk kedelapan anaknya dengan lauk yang sedikit tapi tetap bisa kenyang.

 

Menakjubkan, dari hasil kerja kerasnya, Beliau berhasil melanjutkan pendidikan anak-anaknya yang awalnya masih menganut paham “tak perlu sekolah, ujung-ujungnya dapur ama nyangkul. Anak pertama telah berhasil menyelesaikan program studi Doktornya disusul oleh putra ke 4 yang sedang mengenyang program Doktor juga. kemudian anak ke 2,3,5,6, menjadi seorang kepala sekolah, guru TK, akuntan, Dan si bungsu sedang melanjutkan studinya program Magister.

 

Tidak seperti dari putra-putrinya yang lain. Anak beliau yang ke 7 mengidap autis. Sehingga tidak bisa bersekolah. Ibu diah menuturkan bahwa anaknya yang ke 7 sesungguhnya anak yang paling cerdas dibanding dengan yang lain. Namun Allah berkehendak lain. Beliau berkata “saya yakin ini adalah berkah untuk keluarga saya, bukan sebuah aib. Karena bagi saya Allah telah mempercayakan “Jihad” (namanya) kepada saya untuk mendidik, menjaga, dan menyayanginya. Maka saya adalah salah satu perempuan yang terpilih.

 

Beliau bercerita bahwa ia bukan perempuan yang pintar dan cerdas, tapi dengan kehendak Allah, insyaAllah ia bisa membuat anak-anaknya cerdas dan pintar namun tetap memperhatikan dasar-dasar agama yang ia bangun kuat. Jika di analogikan beliau berkata “membangung pondasi jalanan ya harus kuat, biar semua jenis kendaraan seperti mobil kecil, besar bahkan truk tak bisa menghancurkan jalannya, bukan malah memberi portal “mobil besar dilarang masuk”.

 

Karena menjadi seorang ibu tidak perlu keras kepada anak-anaknya, ini bagi saya “ujar ibu berumur lebih dari setengah abad ini. Cukup diberi tanggung jawab, berikan informasi mana yang baik dan buruk. Biarkan mereka memilih tapi tidak melepaskan kendali kita sebagai orang tua.

 

Salutnya lagi, setiap hari beliau selalu bertahajud dan membaca Quran yang kurang lebih mampu mengkhatamkan Quran satu kali dalam tiga bulan. Kecuali di bulan Ramadhan Beliau bisa lebih dari satu.

 

Beliau menceritakan bahwa terkadang beberapa anaknya merindukan makanan yang dibuatkan olehnya, ini menjadi hal biasa untuk semua anak. Yang diluar dari biasa adalah anaknya malah rindu dengan masakan beliau yang rasanya asin sekali. Yang jelas setiap anak pasti berbeda-beda dari apa yang ia rindukan kepada ibunya mulai dari bau khas seorang ibu, kamarnya, masakanya, atau bahkan pada saat seorang ibu marah.

 

Saya mencoba menjadi Ibu yang demokratis untuk anak-anak. Seorang ibu hanya bisa menyampaikan ayat-ayat Allah dan berdoa untuk buah hatinya agar selalu dalam lindungan, koridor, dan akidah Islam. Ini hanya idealnya saja, karena tiap orang tua pasti memiliki masalah dan cara yang lain untuk mendidik anaknya dari berbagai karakter yang berbeda. Namun apapun caranya Allah pasti selalu memberikan pertolongan kepada para Ibu yang berjuang untuk anak-anaknya

 

 

Egits Ahmad