وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri,” (Qs. Al-Ahqaaf : 15).

Kadang ucapan sibuk selalu menjadi alasan kita untuk tidak mau mendengar cerita tentang apapun ibu lalui hari ini. Bagaimana sedihnya ibu mendengar anak tetangga sebelah rumah sakit gagal ginjal, dan harus menjalani cuci darah. Tetapi disaat sama ibu masih bisa bersyukur bahwa anaknya sehat wal afiat.

Bagaimana senangnya ibu, ketika diantarkan semangkuk bubur kacang ijo oleh tetangga. Dan ia mengalahkan rasa inginnya. Ia memilih untuk tidak memakannya, karena ia ingat padamu. Ibu berharap semangkuk bubur kacang ijo itu bisa mengobati lelahmu setelah bekerja seharian.

Tetapi apa yang kamu lakukan?

Sepulang kerja, kamu lebih memilih pergi bersama teman atau kekasihmu. Makan di restoran atau kafe mahal. Demi eksistensi dan demi gengsi.

Sesampai di rumah, jangankan kamu tanya bagaimana kabar ibumu. Sekedar mencium tangannya pun kamu enggan.

Ibu selalu memperhatikan penampilanmu. Pakaianmu. Bagaimana pekerjaanmu. Tetapi kadang kamu lupa, bagaimana cara membahagaikannya. Mulai dari hal paling sederhana.

Kawan, sebelum terlambat, jika saat ini ibu ada didekatmu dan masih terjaga. Ajaklah berbicara, dengarkan ceritanya. Tanyakan bagaimana ia melewati harinya tadi?

Jika ibumu jauh, angkat telponmu. Katakan betapa kamu merindukannya. Merindukan peluknya. Merindukan bagaimana cerewetnya ibu ketika kamu kecil dulu tidak mau menuruti perintahnya.

Jika ibumu sudah tidak ada, panjatkan doa-doa terbaik untuknya. Karena hanya itu cara yang bisa kamu lakukan agar ibu tahu, kamu begitu mencintainya. Dan agar Tuhan menjaganya di Surga.

 

Penulis : Arief Budiman