Foto Ilustrasi

 

إِنَّ الَّذِينَ يُنادُونَكَ مِنْ وَراءِ الْحُجُراتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

”Sesungguhnya orang-oramg yang memanggilmu dari luar kamar (mu) kebanyakan mereka tidak berakal”. (Qs. al-Hujurat: 4)

Konteks ayat ini tentang kejadian dimana suatu kaum yang kaku lagi kasar dari suku-suku Arab memanggil Nabi saw dari luar kamar beliau tanpa menjaga sopan santun dan penghormatan yang sepatutnya diberikan kepada beliau, sehingga Allah SWT mencela mereka dan menyifati kebanyakan mereka sebagai orang-orang yang tidak berakal seperti binatang ternak.

Akal semacam apa yang dimiliki seorang manusia yang membuatnya berteriak dengan suara yang tinggi di depan duta besar Allah ini tanpa menggunakan sopan santun, sebagaimana yang dilakukan oleh kabilah Bani Tamim yang memanggil Nabi saw dengan suara yang mengejutkan, mereka berteriak: “Wahai Muhammad! Keluarlah menemui kami!”, sedangkan beliau adalah poros kecintaan dan kelemah-lembutan Tuhan, seperti inilah mereka menyakiti Nabi saw.

Pada dasarnya setiap kali akal seseorang meningkat maka meningkat pula adab dan sopan santunnya, sehingga dia akan mengetahui kapan seharusnya melakukan suatu perbuatan dan kapan tidak harus melakukannya. Dari sini jelaslah bahwa adab buruk menunjukkan pada ketiadaaan akal, atau dengan kata lain adab buruk adalah perbuatan binatang, sedang adab baik adalah perbuatan manusia.

Sebagaimana diketahui bahwa manusia adalah hayawanun nathiq (makhluk nidup yang berakal) maka pada saat sifat nâthiq itu hilang dari diri manusia ia tidak lagi bisa disebut manusia yang tersisa hanyalah sifat hewaninya.

Islam juga menganjurkan agar dalam bergaul dengan orang lain hendaknya disertai dengan penghormatan dan sopan santun, baik dengan individu ataupun kelompok. Berikut beberapa hadits dari para Imam Ma’sumin yang berkaitan dengan tema ini;

قال الإمام علي (ع): الآدَابُ حُلُلٌ مُجَدَّدَةٌ

Imam Ali Alaihi Salam berkata, “Sopan santun adalah pakaian penghias yang terus-menerus baru.

Beliau juga berkata dalam kesempatan lain, الأَدَبُ يُغْنِيْ عَنِ الْحَسَبِ

“Kesantunan/tata-krama mencukupkan (kita) dari kedudukan (kehormatan) sosial.

Dalam hadis lain dari Imam as-Shadiq berkata,

خَمْسٌ مَنْ لَمْ تَكُنْ فِيْهِ لَمْ يَكُنْ كَثِيْرٌ فِيْهِ مُسْتَمْتِعٌ : الدِّيْنُ وَالْعَقْلُ وَالْحَيَاءُ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَحُسْنُ الأَدَبِ

“Lima hal yang jika tidak ada dalam diri seseorang maka ia tidak akan memiliki banyak peminat: agama, akal, rasa malu, budi pekerti dan kesopanan.

Karenanya jika kita membaca sejarah kehidupan pemimpin-pemimpin Islam akan kita temukan bahwa mereka semua menjaga akhlak dan sopan santun bahkan kepada orang-orang biasa, dan pada dasarnya agama Iislam adalah kombinasi dari berbagai adab (sopan santun) yakni sopan santun di hadapan Allah, sopan santun di hadapan Rasulullah saw dan para Imam maksum as., sopan santun di hadapan guru, serta sopan santun di hadapan orang tua, orang alim dan pemikir.

Jadi, Anda sopan kamipun segan. Di mana anda berpijhak, di situ langit di junjung.