Pada mulanya anting adalah tanda yang diberikan seorang tuan kepada budak wanitanya. Dengan kata lain, bila seorang wanita telah dilubangi daun telinganya, maka dia tak lagi menjadi manusia seutuhnya. Hidupnya menjadi milik orang lain. Wanita itu pun menjadi budak seumur hidup sampai ajal menjemputnya. Tradisi ini dijalankan oleh orang-orang Yahudi sebelum Islam sebagaimana diterangkan dalam Injil, kitab Exodus 21:6.

Ketika Islam datang, tradisi melubangi daun telinga itu pun sudah ada di tengah masyarakat Arab. Hanya saja, anting telah berfungsi sebagai asesoris penghias kecantikan wanita. Tidak ada satu keterangan yang menyebutkan Rasulallah SAW melarang wanita memakai anting. Namun juga tidak ada keterangan yang menyebutkan Rasulallah SAW menganjurkannya.

Pernah, suatu hari, Rasulallah SAW menganjurkan para wanita berinfaq, dan mereka bersegera mencopot anting dari telinganya, lalu perhiasan itu dikumpulkan oleh Bilal bin Rabah. Rasulallah SAW tidak mengomentari masalah wanita memakai anting.

Kisah lainnya, Aisyah menceritakan kepada Rasulallah bahwa suatu hari dia dan sepuluh orang wanita lainnya (sebelas orang) duduk-duduk bersama, lalu Ummu Abu Dzar, wanita kesebelas dalam obrolan itu, mengatakan bahwa telinganya sampai berat membawa-bawa anting yang diberikan suaminya, Abu Dzar al-Ghifari. Mendengar cerita Aisyah itu. Rasulallah SAW mengatakan, engkau bagiku seperti Abu Dzar pada Ummu Abu Dzar.

Dua kisah di atas kemudian melahirkan ihktilaf di kalangan para ahli fiqh, apakah hukum memakai anting? Menurut madzhab Hanafi dan Hanbali, hukum memakai anting adalah sunnah sebab sesuatu yang tidak dilarang Rasulallah SAW adalah bentuk ‘sunnah taqririyah” atau “persetujuan Nabi atas suatu hal”. Dalil lainnya, bukankah tabiat wanita memang suka berhias, dan anting menjadi penyempurna penghias kecantikannya.

Sementara, madzhab Syafii tidak menganjurkan menggunakan anting. Bahkan cenderung melarangnya. Sebab, menurut pendapat madzhab ini, melukai anggota tubuh untuk berhias adalah perbuatan yang menganiaya dan menyebabkan dosa. Kaitannya dengan hadits yang diceritakan dari Aisyah di atas, tak ada penjelasan apapun tentang anjuran Nabi memakai anting. Ucapan Nabi lebih menunjukan bahwa Nabi mencintai Aisyah seperti Abu Dzar mencintai isterinya.

Jadi, memakai anting adalah pilihan. Dan, nampaknya, untuk urusan yang satu ini, para wanita kita lebih memilih menggunakan madzhab Hanafi, padahal (dulunya) anting berawal dari kisah perbudakan sebagai tanda kepemilikan majikannya.

(Inayatullah Hasyim)