Kami sekeluarga pernah jatuh, terluka, dikhianati, dibodohi, dilupakan, dianggap remeh, dan segala macam hal yang berkonotasi “gagal”. Kemudian saling menemukan karena sudah sama-sama lelah jatuh.

Banyak yang di masa percintaan mereka penuh dengan kata-kata romantis. Bunga ditanggal-tanggal cantik. Kue disetiap perayaan. Kami (terlebih saya) adalah pribadi yang tidak mencari bahagia digegap gempita perayaan apapun itu.

Sebab bagi kami, bahagia tercipta bukan dari sekuntum bunga, sepotong kue, atau tiupan lilin dipertambahan usia. Bahagia kami tercipta sejak kami berjanji dihadapan orang tua untuk sama-sama ingin sehidup dan semati bersama.

Belajar berdiri lalu berjalan beriringan, saling mengobati, akhirnya menyembuhkan satu sama lain. Lalu saling menguatkan ketika salah satunya letih di perjalanan. Kami teman hidup seatap yang disahkan atas dunia dan demi akhirat. Inshaallah.

Untuk kalian yang sedang berjuang, menunggu, terluka hati hingga hancur berkeping, hilang asa karena merasa tak berharga. Belajarlah sabar. Karena yang baik tak datang sebegitu mudahnya.

(Arief Budiman)