lustrasi Berjualan
lustrasi Berjualan

Beberapa tahun terakhir, perbincangan tentang kewirausahaan, menjadi pebisnis, membuka usaha sendiri mulai sering kita dengar. Mulai dari rekan sekantor yang menjalankan bisnis kosmetik, teman kuliah yang memulai bisnis pakaian, istri tetangga yang berjualan daster, sampai mantan pacar yang berbisnis hijab trendi. Bahkan, puluhan (mungkin hingga ratusan) seminar bagaimana menjadi pebisnis profesional dan handal juga dibuka dimana-mana dengan peserta ratusan bahkan ribuan orang setiap bulan. Seharusnya kemudian muncul banyak bisnis-bisnis baru minimal separuh dari jumlah peserta seminar kan? Akan tetapi kenapa yang muncul hanya segitu-gitu saja?, Tidak terjadi peningkatan yang signifikan?, Padahal dukungan modal, ilmu bahkan mentor-mentor bisnis bertebaran di dunia nyata hingga dunia maya.

Jawabannya hanya satu yakni sikap mental. Banyak yang menganggap, menjadi wirausahawan itu adalah pekerjaan. Membuka usaha adalah pekerjaan. Berbisnis adalah pekerjaan. Padahal sejatinya, bisnis itu adalah sikap mental. Mental wirausahawan, mental petarung, mental pemberani. Mental Pengusaha. Yang selalu mengusahakan apapun, untuk menciptakan kebaikan bagi diri sendiri dan sekitarnya. Kita boleh membuka usaha, apapun itu.

Tetapi kalau mentalnya masih mental karyawan, nggak butuh waktu lama agar usaha itu tutup. Dan seorang karyawan-pun kalau mentalnya mental pebisnis, maka dia akan punya penghasilan melebihi bosnya. Nggak percaya? Coba tanyakan temanmu yang bekerja di bagian marketing atau sales, berapa gajinya setiap bulan? Pasti tidak tentu. Kadang besar melebihi gaji manajernya, kadang tongpes alias kantong kempes tidak ada hasil. Itulah bisnis. Sayangnya, kita ini pada umumnya walaupun pebisnis tapi mentalnya karyawan.

Lihat bagaimana cara kerja karyawan :

Rutinitas: Hari-hari berlalu seperti kaset rusak. Muter aja diulang-ulang tidak ada perubahan

Takut mencoba hal baru : Kalau ada pekerjaan baru, strategi baru, tempat kerja baru, atasan baru, biasanya mengeluh padahal belum juga dilaksanakan

Menunggu perintah : Karyawan suka menunggu perintah untuk mengerjakan sesuatu daripada mencari pekerjaan yang bisa dilakukan. Prinsipnya jika pekerjaan saya selesai lalu santai. Pekerjaan lain biar diurus bagiannya masing-masing. Ngapain ngerjain kerjaan orang?

Lebih semangat minta naik gaji ketimbang kontribusi : Kontribusi pada perusahaan gitu-gitu aja tapi gaji minta naik tiap tahun. Alasan naik gajinya juga tidak masuk akal, gara-gara beras naik dan BBM naik. Emangnya perusahaan itu lembaga sosial yang ngurus sembako?

Malas belajar : Karyawan biasanya jauh dari buku dan dekat dengan gosip. Jangankan ikut seminar, training atau lainnya, baca dua halaman buku aja udah pusing. Mereka lebih suka santai ngopi sambil bergosip tentang bos atau tentang rekan kerja yang begini begitu.

Ingin terlihat kaya walau miskin: Suka beli barang-barang mewah, elektronik, mobil baru, rumah direnovasi tiap tahun, baju baru tiap bulan, jalan-jalan ke sana-sini. Tapi sebenarnya hutangnya besar. Investasi nol.
Nah, jika anda menjalankan bisnis tetapi masih mempunyai sifat-sifat itu, maka berarti anda pebisnis bermental karyawan. Lama suksesnya kalau nggak mau dibilang gak bakal sukses. Walau anda punya uang banyak dan bisa membangun rumah makan tapi kalau mentalnya masih seperti diatas, Insha Allah cepet tutup deh itu rumah makan.

Tetapi jika anda punya mental sebaliknya. Walau modal uang tidak punya, Insha Allah sukses sudah di depan mata. Tidak perlu minder sebagai karyawan, yang penting mentalnya pengusaha. Daripada anda nekat keluar kerja, buka usaha sendiri tapi mental masih mental karyawan, itu sama saja anda bunuh diri.

(Arief Budiman)