He who has never learned to obey cannot be a good commander (Aristotle)

Adalah sebuah kekeliruan bahwa seorang pemimpin merupakan orang yang harus dipatuhi, tetapi ia tidak benar-benar memahami arti mematuhi. Justeru pemimpin yang baik adalah orang yang belajar bagaimana patuh dan taat.

Maka, jika ada pemimpin yang sewenang-wenang atau berbuat semaunya sendiri tanpa memperdulikan orang lain atau kepentingan orang banyak, berarti dia selama ini tidak pernah belajar patuh dan taat. Yang ada dalam pikirannya, sebelum menjadi pemimpin, adalah bagaimana ia harus dipatuhi.

Sangat besar kemungkinan bahwa pemimpin-pemimpin otoriter lahir dari lingkungan yang mendukungnya. Misalnya sejak kecil ia terbiasa untuk selalu dituruti semua kemauannya. Ia akan marah besar atau ngamuk-ngamuk jika ada satu saja keinginannya yang tidak dipenuhi keluarganya.

Dengan kebiasaan yang buruk seperti ini hampir bisa dipastikan bahwa ia akan menjadi pemimpin yang buruk pula. Maunya hanya dipatuhi semua perintahnya. Ia bisa dengan mudah menjatuhkan hukuman kepada siapa pun jika ada perintahnya yang tidak dipatuhi. Banyak cerita tentang seorang raja yang menjatuhkan hukuman mati begitu saja ketika ada orang yang dianggapnya mengabaikan perintahnya tanpa mencari tahu masalahnya.

Oleh karena itu, jika ingin menjadi pemimpin yang baik, engkau harus belajar patuh. Ketika engkau menjadi orang yang patuh, baik di lingkungan keluarga, sekolah atau kampus, kantor, maupun lingkungan sosial sesungguhnya itu merupakan bekal yang sangat berharga untuk menjadi pemimpin. Engkau, misalnya, akan mudah berempati kepada orang lain pada saat kelak menjadi pemimpin.

Menjadi seorang pemimpin memang hal yang penting. Tetapi yang jauh lebih penting adalah menjadi seorang pemimpin yang baik.

(Iding Rosyidin)