Ini bermula dari perjalanan saya menuju salah satu tempat di Penanjakan 2 yang berada di desa Seruni, Probolinggo, Bromo, Jawa Timur, untuk melihat matahari terbit. Banyak wisatawan yang memiliki maksud yang sama dengan saya berada di tempat yang cukup melelahkan, karena harus berjalan kaki dengan menanjak dan menaiki tangga sejauh 500 meter. Lepas melihat matahari terbit, saya berusaha ambil foto sekadar untuk kenang-kenangan. Walhasil, karena berfoto ria akhrinya membuat saya turun terlalu siang. Wisatawan sudah banyak yang pulang.

Tangga dan jalur yang saya lalui sudah sepi pengunjung. Tapi dari kejauhan saya melihat dua orang wanita lanjut usia berpakaian tradisional sedang duduk di atas batu sembari melihat saya turun. Saya sempat mengacuhkan, namun mereka melihat terus ke arah saya. Saya pun menegur dan menanyakan apa yang sedang mereka lakukan. Mereka biasa duduk di sana untuk melihat wisatawan dan berfoto dengan mereka jika ada wisatawan yang tertarik.

Pakaian mereka unik dan membuat saya penasaran dari mana mereka berasal. Perbincangan pun dimulai. Mereka berdua ternyata merupakan suku asli daerah itu. Suku yang tinggal di pedalaman antara pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, Jawa Timur, Indonesia. Mereka adalah Suku Tengger. Sehari-hari aktivitas mereka mencari kayu bakar. Tiap pagi di tengah ramainya wisatawan, ia akan duduk-duduk seperti itu. Jika matahari sudah meninggi, pengunjung sepi, mereka mencari kayu bakar kembali.

Saya pun sempat berfoto dengan mereka. Agaknya mereka tidak kaku di depan kamera. Barangkali karena sudah terbiasa. Saya mungkin menjadi wisatawan ke sekian yang sudah berfoto dengan dua nenek itu. Jadi mereka rileks saja foto dengan saya. Tapi tetap mereka masih malu-malu saat diajak bergaya. Setelah berfoto, saya pun menanyakan di mana rumah mereka.

“Di bawah. Jauh,” ujar salah satu nenek itu sambil menunjuk ke bawah sekitar kaki Gunung Bromo.

Saya sempat ingin mengetahui lebih dalam aktivitas sehari-hari Suku Tengger selain mereka yang mencari kayu di hutan. Ia membeberkan kebanyakan dari warga Suku Tengger memiliki mata pencaharian sebagai petani. Rata-rata mereka bertani kentang, daun bawang, sayuran, palawija, dan sebagainya. Mereka memiliki semacam juragan untuk mengumpulkan semua hasil panen untuk dibawa ke pasar.

Iseng-iseng pertanyaan saya pun akhirnya bermuara kepada apa agama yang mereka anut. Mereka mengaku beragama Hindu. Salah satu wanita lanjut usia memaparkan, mayoritas Suku Tengger beragama Hindu. Bagi mereka, agama itu sudah mereka anut dari nenek moyang mereka hingga sekarang.

Bagi saya cukup menarik perbincangan terkait agama dari salah satu suku pedalaman yang ada di Indonesia ini. Suku Tengger memang mayoritas beragama Hindu. Namun beberapa dari mereka beragama Islam meskipun itu hanya baru-baru ini saja. Kakek dan nenek mereka kemungkinan masih beragama Hindu. Mereka merupakan penganut agama Hindu yang taat.

Saya sempat mendengar komentar mereka mengenai keberagaman. Saya tidak tahu pasti apakah sebenarnya mereka memahami keberagaman. Namun salah satu dari mereka bilang, “Indonesia kan Bhinneka Tunggal Ika. Jadi kami di sini saling menghargai saja. Tidak boleh menghalangi mereka yang muslim beribadah. Yang muslim juga tidak boleh menghalangi kami beribadah,” ungkapnya.

Pemahaman seperti itu menurutnya sudah tertanam sejak dirinya masih kecil sebelum ada negara Indonesia. Lingkungan mereka santai saja dalam urusan agama, artinya tidak memusingkan cara orang lain beribadah. Mereka mempersilakan siapa pun menjalankan ibadah agamanya. Makanya, Suku Tengger bisa bertahan sampai saat ini salah satunya karena bisa hidup berbarengan dengan penganut agama lain.

“Tidak ada pukul-pukulan,” kata salah satu dari mereka.

Perbincangan kami memang tidak terlalu lama. Namun pesan itu mampu membuat saya berpikir. Setidaknya apa yang mereka ucapkan cukup sederhana. Tidak perlu ribet menafsirkan kata-kata yang mereka sampaikan. Saya sempat berpikir, perilaku kolektif Suku Tengger tentang bagaimana menghargai ibadah orang lain tentu saja melalui proses yang panjang. Mulai dari bagaimana mereka mampu menyampaikan pesan-pesan itu kepada anak-cucu mereka hingga bagaimana mereka tidak perlu marah atau risih melihat orang lain berbeda.

Pemahaman seperti itu nampaknya sudah menjadi darah daging mereka. Mulai dari yang muda hingga yang tua mengerti dan mempraktikan perilaku itu. Kita sepertinya masih perlu belajar bagaimana cara mengajarkan kepada anak-cucu atau siapa pun tentang pesan perdamaian ini. Di luar sana orang boleh pintar tentang teori perdamaian, tapi di sini mereka sudah mewujudkannnya.

Hari semakin siang ditambah pula belum sempat sarapan. Saya putuskan untuk sarapan dengan mie instan di salah satu warung kopi yang berjualan di sepanjang perjalanan. Sembari menunggu mie matang, saya pun tertidur. Ketika bangun, saya sadar, saya harus sampaikan pesan ini juga.

Oleh: Muhammad Fanshoby
Email: muhammadfanshoby@gmail.com