Saya teringat, bagaimana berdegup-kencangnya dada saya ketika tahun awal memasuki ibukota, nyaris tidak pernah terbayangkan bahwa ada di dunia ini gedung-gedung tinggi, berkaca, jalanan lebar beraspal.

Di kampung saya, Krueng Buloh Cut, Nagan Raya, Aceh. Tidak ada listrik, televisi, jalanan beraspal, setidaknya hingga sekitar tahun 2000. Di tahun yang sama anak-anak di pulau Jawa sudah hingar bingar dengan game (permainan) canggih, televisi berwarna, jalanan yang ramah roda alias motor dan mobil.

Setiap pagi saya berangkat sekolah dasar jalan kaki, melewati dua sungai tanpa jembatan, satu kali kuburan (makam) yang membuat saya harus lari karena takut, kanan-kiri tumbuh ilalang yang tingginya melampaui saya, jalan setapak, sepatu menggantung di leher, berkilo-kilo jaraknya.

Hingga tahun konflik di Aceh itu datang, kampung kami luluh lantak, sekolah dasar saya terbakar, rumah-rumah juga terbakar, ditutup dengan bencana tsunami tahun 2004.

Tanpa sapuan tsunami rumah sudah habis terbakar dan penduduk hijrah ke pengungsian. Hari ini, saya berkabung untuk sebagian teman sekolah saya yang hilang karena konflik, sebagian lainnya tak tampak lagi usai bencana tsunami. Saya tidak punya harapan lagi untuk reuni sekolah dasar.

Kakek saya bukan tipe manusia yang menerima takdir begitu saja. Di saat sebagian terpaksa menerima tinggal di pengungsian, kakek memilih hijrah ke Jawa, kembali ke tanah kelahiran, kami adalah keluarga transmigran, datang ke aceh, ibu saya berjodoh, maka lahirlah saya Dedi Kurnia Syah alias Azra.

Di Pulau Jawa, saya disinggahkan ke Pondok Pesantren merangkap panti asuhan Darut Taqwa, Semarang. Usai dari sana melanjutkan sekolah madrasah di Jepara. Selesai itu pula, kembali saya berangkat ke Jakarta. Di sinilah degup dada itu meluap, terkagum luar biasa dengan yang namanya Ibukota Jakarta. Tujuan awal saya yakni kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Atau lebih di kenal dengan UIN Ciputat.

Niat meluap, uang tak punya, bukan persoalan. Saya cari persinggahan yang tak berbiaya. Pilihan pertama adalah Pesantren Ciganjur, Di bawah asuhan langsung K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Berbekal surat tanda tangan dari Guru madrasah saya, Bpk. M. Syaifuddin Alia. Namun saya belum beruntung, sebab tinggal di pesantren ini peruntukannya untuk mahasiswa semester 3, sedangkan saya waktu itu baru semester niat. (baru ingin mau masuk kuliah).

Sekira sebulan singgah, saya melangkah keluar, kembali ke Ciputat, bertakdir dengan Masjid, ya Masjid tinggal di Masjid karena tidak punya biaya hidup. Tahun awal perkuliahan saya harus berpindah-pindah dari masjid ke masjid, hingga menetap di Aula Insan Cita, sekretariat HMI Ciputat, sampai meraih gelar Strata 1 (S1).

Hari ini saya bersyukur teramat sangat, bahwa ternyata tidak ada yang mampu menghalangi niat. Dengan tekad niat yang kuat dan berdoa, Gelar Doktoral saya raih.

Terimakasih untuk teman-teman yang telah menjadi bagian dari cerita saya. Selain ibunda kandung dan keluarga saya, mereka yang teramat sangat berjasa untuk saya, sekiranya harus membalas kebaikan dan pertolongannya, maka seluruh harta yang saya kumpulkan seumur hidup, tidak akan mampu mengembalikan kebaikan mereka yakni Ayahanda Dr. Sunandar Ibnu Nur, Mas Akhsin Muamar, Bapak Muhammad Saifudin Alia, dan kawan saya Husni Mubarock.

Segala bentuk jeripayah usaha dan doa sudah dilakukan, memang betul tidak ada hasil yang menghianati usaha.

Dan pada akhirnyaa, hari ini, pendidikan tertinggi sudah diraih. Gelar doktor muda yang diraih, di usia 27 tahun 5 bulan.

Semoga gelar yang disematkan dapat menjadi bekal amal baik dunia maupun di akhirat. Pencapaian ini dengan proses yang tidak dikatakan muda namun sarat dengan nilai syukur.

Semoga seklumit perjalanan hidup saya ini menjadi pematik para penuntut ilmu. Bahawa keterbatasan finalsial dan apapun itu rintangannya, jika niat yang kuat, Insya Allah ada jalan untuk menggapainya.

(Dedi Kurnia Syah Putra/Azra)