Senja menyapa
Senja menyapa

Penyimpangan pemikiran atau pendapat dari jalur ‘ijma para ulama mu’tabar dapat disebut “nyeleneh” karena berseberangan dari mainstream dan terdengar aneh.

Keanehan penyimpangan jalan pemikiran seperti ini kerap terjadi pada seseorang calon “pemikir” yang sedang berupaya membentuk frame-work dalam dirinya pada masa perkembangan. Pergeseran terus terjadi kekiri ataupun kekanan sesuai dengan input yang diterima dan kemudian diolahnya sendiri.

Namun keanehan seperti ini akan bertambah rumit jika pe-“nyelenehan” terjadi pada seseorang yang sudah dianggap “matured enough” dalam perjalanan dunia intelektual.

Oh Ilahi, mengapa ini harus terjadi, Ternyata dunia ini penuh cobaan yakni harta, tahta dan wanita, semuanya mencoba menggamit mata dan perhatian.

Atas dasar inilah, Rasul SAW memperingatkan kita dalam wasiatnya yang diriwayatkan dari Abdullah ibnu Abbas ra dalam Sahih Bukhari, “Alloh Taala tidak akan membiarkan umatku sepakat dalam kesesatan (perbuatan atau pendapat/pemikiran), perlindungan Allah berada pada kesatuan umat (jamaah), barangsiapa menyimpang (nyeleneh) maka penyimpangannya itu akan menyeretnya ke Neraka,”.

Karenanya, potensi penyimpangan pemikiran, sikap dan perbuatan mungkin dapat terjadi pada setiap orang dalam level apapun di sepanjang trotoar kehidupannya.

Berlindung kepada Alloh Taala dan berjalan beriringan dalam irama kaum muslimin yang diwakili para ulama, cendekiawan, asatiz, kyai, habaib dan intelektual mu’tabar yang termasuk dalam “mainstream” ahli sunnah wal jamaah termasuk dalam artian “al sirat al mustaqim” yang membawa pada destinasi keselamatan, karena kita bukan orang pintar pertama yang pernah dilahirkan ke dunia fana ini.

(Nuryadi Asmawi)