Waktu kami kecil, banyak cara almarhum Babah dan almarhumah Umi agar kami tertarik belajar membaca dan cinta Al Quran. Umi dan Babah sering memberi kami hadiah, mulai dibelikan baju, mainan dan alat-alat sekolah, sampai hadiah berupa uang jika kami rajin membaca Al Quran per-juz dan sampai khatam.

Alhamdulillah, saya bisa membaca Al Quran sejak Taman Kanak-Kanak (TK). Guru TK saya Mpok Umi Kulsum Murhain, dan Mpo Husnawati Binti H. Murhain.

Saat Ramadan, Umi dan Babah memotivasi kami berlomba mengkhatamkan Al Quran. Agar rajin belajar baca Quran biasanya waktu kecil motivasinya macam-macam. Salah satunya supaya dapat uang Rp 20.000 sebagai hadiah jika saya bisa baca. Pada tahun 1988 uang segitu bisa untuk membeli berbagai macam barang yang lumayan bagus dan mahal.

Saya masih umur 7 tahun saat itu, pertama kali mendapat uang Rp 20.000 dari Babah lantaran berhasil mengkhatamkan Al Quran bersama saudara-saudara saya lain.

Waktu itu saya bahkan masih bingung untuk apa uang Rp 20.000?. Dan akhirnya uang itu saya belikan sepatu bubble gummers. Satu-satunya sepatu yang bisa awet di kaki saya. he he he..

Itupun sepatu dipakai setelah naik kelas 2 Sekloah Dasar (SD). Pada saat itu saya memakai sepatu yang saya beli dari hadiah baca Alquran terasa sangat bangga sekali. Dasar ya anak-anak. hehe..

Dari situ, hari-hari saya terbiasa ‘akrab’ dengan Al Quran. Mencintai segala sesuatu yang berhubungan dengan Al Quran.

Kini, saya rindu ditegur ketika saya salah membaca Al Quran, apalagi saat Umi mengajarkan saya melafazkan huruf “kha”.

Terakhir Umi menegur, sehari sebelum Umi wafat. Saya sengaja salah membaca ayat, agar Umi merespon disaat kesadaran Umi semakin menurun.

Saya mengaji sambil berbisik di telinga Umi, “Umi, Aa (saya) mau ngaji, nanti kalau bacaan Aa ada yang salah, tolong benerin ya mi,” pinta saya sambil mengecup kening dan menggenggam lembut tangan Umi.

Di surat Dhuha, pada ayat ke empat: “wa lal-aakhiratu khoirul laka minal uula” (Dan sungguh yang kemudian itu (akhirat) lebih baik bagimu daripada yang permulaan (dunia). Kata akhirat dan khoir yang saya ucapkan, kurang jelas huruf “kha” nya.

Umi menggenggam lemah tangan saya, yang saya pahami sebagai tanda saya salah membaca. Saya tersenyum sambil mengulang ayat. “Oya, kha-nya kurang tebel ya mi?. Alhamdulillah, Umi ngerespon juga”, candaku kepada Umi yang sedang terbaring lemah.

Lalu aku melihat kristal bening menetes di ujung mata umi dan mengalir di pipi umi yang putih bersih. Aku mengusap air mata umi dan memeluk tubuh umi yang tak lagi bisa bergerak.

Di dada umi aku berkata, “Aa tahu, kalau umi masih bisa bicara, umi pasti ajarin Aa cara ucapin huruf kha lagi kaya waktu Aa masih kecil kan?, Enggak apa umi, umi tenang aja, insya Allah semua ilmu yang umi ajarkan, akan Aa jadikan pegangan hidup. Pahala Umi terus mengalir tanpa henti, dari mulut umi, lanjut ke mulut anak-anak umi, lanjut ke mulut anak didik umi dan anak didik dari anak-anakumi, terus sampai kiamat nanti. Allah pasti mencintai Umi, dan kami semua juga mencintai Umi”. ucapku kepada Umi.

Saat itu, aku terisak menangis sendiri, ditemani butiran kristal yang mengalir lagi di pipi umi. Dan aku telah merasa, itulah saat terakhir kami bersama Umi.

Dear, Umi Babah, tenanglah di alam barzah. Tradisi baik keluarga kita belajar dan membaca Al Quran akan kami lanjutkan kepada anak cucu kami semua.

Terima kasih Babah dan Umi, telah mendidik kami mencintai Al Quran sejak kecil. Menjadi jalan hidup sejati yang terus membimbing kami kepada kebahagiaan hidup di dunia fana ini, hingga dengan Rahmat Allah SWT nanti, kita bersama lagi di surga dengan wajah berseri-seri.

Kami akan terus saling menjaga. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan berkah dan rahmat-Nya kepada kita semua, menyayangi dan menjaga Umi dan Babah, seperti Umi dan Babah menyayangi kami di saat kami masih kecil, Aamiin Ya Rabb..

Untuk Umi Babah.. Al-fatihah..

[Dr. Nur Arfiah Febriani, Alumni Pesantren Attaqwa Ujung Harapan Kyai Noer Alie Dan Dosen PTIQ)