Malam ini saya menikmati secangkir Kopi Talise di pesisir Anjungan Nusantara pantai Talise Palu. Posisi saya menikmati minum kopi berada di Jalan Komodo mungkin radak aneh kenapa di Kota Palu diabadikan nama Komodo sebagai jalan, padahal tidak ada hewan purbakala tersebut di daerah ini. Ternyata, jalan ini dipenuhi harapan agar kota Palu dapat terkenal sebagaimana Taman Nasional Pulau Komodo (TNK) di Manggarai Barat NTT.

Dalam menikmati kopi Talise, saya di temani oleh pejuang dakwah Persaudaraan Muslim Indonesia ( Parmusi) yakni ustad Nur Sihaka, dan pemilik warung Nikmat Kopi Talise (NKT) bang Bobby namanya. Banyak cerita dibalik kopi Talise saya minum di warung milik Bang Bobby ini. Dia menghidmatkan hidupnya untuk membantu dakwah di wilayah Palu. Perlu diketahui sebelumnya dia merupakan orang ‘jalanan’ yang sudah kenyang dengan kehidupan kelam. Namun takdir Allah SWT berkata lain, kasus pembantaian umat Islam di Poso 1998, membuat dia sadar pentingnya perjuangan membela agama Islam di tanah Palu ini.

Kehidupannya berbalik 180 derajat setelah kejadian itu Bang Bobby menjadi orang yang mendukung dakwah agama Islam, bahkan Allah SWT berikan kemudahan berbagai macam usaha, seperti warung makan, penginapan, dan rental mobil.

Tapi lebih luar biasa lagi, bang Bobby mendapatkan Srikandi pendamping hidup yakni Masniah yang saat ini menjabat bendahara Parmusi kota Palu, pernah mengislamkan 180 orang suku Salenat di pedalaman Sulawesi Tengah.

Saya beruntung malam ini berkesempatan menikmati secangkir Kopi Talise di Kota Palu. Sebab dibalik kopi ini banyak cerita orang-orang hebat, mereka berjuang untuk syi’ar agama Islam di tanah Selebes.

Jika anda singgah di kota Palu sempatkan diri menikmati suasana Sunset (matahari terbenam) dengan meminum secangkir kopi Talise di warung NKT di jalan Komodo tersebut.

[Zakhi Hidayatullah]