Ramadan tahun ini ada kabar kebahagiaan datang dari salah satu kawan kami. Sobirin atau Kang Birin namanya. Kabar baik itu secara spontan dilayangkan di jejaring media sosial WhatsApp (WA). Biasanya orang pada bulan ramadan menginginkan dapat lailatul qadar yakni bulan yang amat baik dari seribu bulan. Katanya sih orang mendapatkan lailatul qadar itu bermacam-macam bentuknya, bisa berupa keberkahan hidup, bertambahnya keimanan, kemudahan rezeki, kemudahan menuntut ilmu, kesehatan jiwa, dan kemudahan diberikan jodoh dan lain-lain.

Nah, Kang Birin alias Wayang ini mendapatkan ‘lailatul qadar’ itu berupa wanita cantik bernama Siti Masitoh. Subhanallah, tabarakallah..

Berikut kabar bahagia itu yang disampaikan di media sosial WA kepada kawan-kawan Magister KPI UIN Jakarta pada tengah malam di malam ramadan 1438 Hijriah :

UNDANGAN

Assalamu’alaikum…
Teman-teman, kakang/teteh semuanya, insya Allah Senin malam selasa ini saya akan melangsungkan akad nikah dengan gadis cantik bernama Siti Masitoh. Mohon doa restunya ya. Dan semoga semuanya lancar.

Untuk acara resepsi nanti akan digelar insya Allah usai lebaran, pada hari Selasa 18 JULI 2017 di kediaman mempelai wanita di Kp. Kadaleman Rt/rw 003/001 Ds. Ketos, Kec. Kibin, Kabupaten Serang-Banten. Undangan nanti menyusul ya. Mudah-mudahan temen-temen bisa menyempatkan hadir pada acara resepsi kami.

Semoga Allah merahmati kita semua. Amin.

Wasalamu’alakikum wr. wb

Sontak terkejut kawan-kawan Magister Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta membaca pesan dari Kang Birin itu. Sebab selama ini Kang birin tidak pernah menyebut nama Siti dalam pencarian jodohnya, malah sering digosiipin naksir sama teman mahasiswi sekelasnya yang dari Depok.

Ahmad Wayang sapaan akrabnya Kang Sobirin ini memang terkenal pendiam dan humoris. Kawan-kawannya mengenal pria tinggi kurus asli Banten ini sebagai penulis novel bergenre percintaan anak muda, dan ada beberapa novel islami juga pernah dia tulis.

Berangkat dari kesulitan ekonomi hidup dan pahitnya perjalanan menapaki sebuah cita-cita ingin mengenyam pendidikan tinggi, tiap kali melamar pekerjaan ditolak, Kang Birin nekat hijrah masuk dalam dunia tulis menulis di rumah dunia. Dari situ dia menjadi manusia yang baru, manusia yang siap bartarung dikehidupan masa depan.

Perjuangannya selama beberapa tahun di rumah dunia tidak sia-sia, mulai dari menjadi reporter di sebuah media lokal dengan menggunakan sepeda pemberian Gol A Gong, Kang Birin menerabas berkilo-kilo jalanan yang ada di Banten.

Peluh keringat bercucuran, namun semangat merubah nasib itu membuat dia tetap bertahan. Akhirnya dia dipercaya menjadi presiden rumah dunia yakni jabatan bergengsi di struktural yang ada di rumah tersebut. Meski sudah menjadi presiden rumah duia tapi dia tetap tawadhu dan menjaga ucapannya, bahwa dia dahulu pernah susah. Kesusahaannya itu menjadi “rem” untuk tidak jumawa kepada siapapun.

Kini presiden rumah dunia itu sudah menyempurnakah hidupnya dengan adanya pendamping hidup. Ya Ibu Siti yang siap selalu mendegarkan keluh kesah Kang Birin. Yang siap mengajarkan anak-anaknya tumbuh besar menjadi manusia tangguh dan tidak cengeng (manja) bahwa sang ayah pernah berjuang dan akhirnya mendapatkan ibu (Siti). Bahwa sang Ayah pernah berjuang menaklukan kerasnya hidup hingga bisa berdamai dengan keadaan takdir.

Banyak cerita hikmah dari perjalanan Kang Birin. Banyak pesan-pesan moral dari lelaki berambut keriting dan berkulit sawo matang itu. Kita belajar dari Kang Sobirin, belajar kesabaran, belajar semangat juang dan belajar sebuah keikhlasan.

‎بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِى خَيْرٍ

“Mudah-mudahan Allah memberkahi engkau dalam segala hal (yang baik) dan mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan,”.
(drs)