Allahhu Akbar, Allahu Akbar, Allahhu Akbar walilah ilham…

Begitu bunyi radio tetangga saya berkumandang takbir sejak adzan magrib tanda lebaran bakal tiba

Bau masakan opor ayam dan ketupat menyengat dari bilik jendela kamar tertutup koran
Anaknya berteriak merengek minta beli baju lebaran memaksa pergi ke pasar malam

Sementara Bapaknya sibuk merapihkan ruang tamu sambil menghisap sebatang rokok jinggo
Sang isteri di dapur sibuk mengolah masakan untuk handai taulan yang esok bertandang

Dari kejahuan terdengar dentuman suara kembang api di langit hitam usai turun gerimis hujan

Surau surau sahut menyahut mengalunkan takbir. Tidak ada lagi suara lirih mengaji pak tua saban hari terbata-bata membaca Al Quran yang tiap malam ramadan terdengar

Pak tua mungkin sudah lelah, lebih baik mendengarkan radio berrsuara takbir sambil menginggat berapa jumlah sanak familinya yang tersisa jelang lebaran

Tetangga saya tak pulang kampung
Ya memang tidak punya kampung
Cukup di rumah petak kontrakan dia menikmati takbir lebaran

Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban
Hanya itu yang dia selalu ingat pesan jelang lebaran

“Nikmat apa lagi yang kamu dustakan”
Lebaran tinggal menghitung jam
Tangannya bergemetar rasa ingin berjabat tangan dengan semua orang

“Mohon maaf bila ada kesalahan, semoga tahun depan bisa kembali bertemu ramadan dan berlebaran,” ucap tetangga sayah sembari menyeruput kopi lebaran.