Seperti deras hujan yang turun di tengah terik matahari. Dul terkejut dengan keputusan Nur yang tiba-tiba saja meminta untuk tidak menghubunginya lagi. Tanpa pernah Dul ketahui sebab yang melatarbelakangi keputusan itu. Terang saja, tidak ada perselisihan berarti di antara keduanya.

Hanya saja beberapa hari sebelumnya, melalui jejaring sosial ‘facebook’, Nur meminta Dul menghubunginya untuk sekadar bertukar kabar. Namun, saat itu ponsel Dul kebetulan saja sedang tidak berpulsa. Untuk berkirim pesan pada Nur saja, Dul meminjam ponsel temannya untuk membuka akun facebooknya. Tentu keterbatasan itu membuatnya tak dapat memenuhi keinginan kekasihnya.

Nur yang merasa tak percaya dengan ucapan Dul itu pun meminta bukti bahwa ia memang tak memiliki pulsa. Keduanya saling beradu kata hingga terjadilah kesalah pahaman yang membuat Dul meninggalkan sebuah postingan di beranda facebooknya. “Rasa yang hakiki bukanlah komparasi ikatan ‘materi’. Live me!,” kata Dul dalam status yang dituliskannya. Entah apa yang ada di pikiran Dul, emosinya memuncak saat ia ditanya berapa banyak uang yang ada di kantong celananya sehingga tak ada sepeser pun pulsa yang bersarang di ponselnya.

Dul tak pernah menyangka jika postingan itu menjadi buah simalakama baginya, ia menduga postingan itulah yang menjadi penyebab Nur memutuskan hubungan yang baru saja dijalaninya selama tiga bulan. Bagi Dul, berpacaran dengan Nur seperti perjalanan tersingkat dibanding dengan hubungan yang pernah dijalani dengan wanita lain sebelumnya. Dul tidak begitu ingat kapan pastinya ia mulai menaruh perasaan pada Nur, yang diingatnya Agustus 2013 silam, Dul meluapkan rasa cintanya pada Nur di bawah sorot lampu remang sebuah tempat makan. Saat itu, Dul dan Nur pergi untuk melepas lapar dan dahaga.

Maklum saja, hari itu bertepatan dengan Ramadhan, dimana Dul yang meskipun biasanya tampil urakan, juga harus ikut berpuasa untuk mencukupi kewajibannya. Layaknya pasangan pada umumnya, Dul dan Nur masih malu-malu untuk membuka pembicaraan langsung, sebab ini kali pertama ia berjalan dan makan bersama meski sebelumnya Dul dan Nur terbiasa berkomunikasi lantang melalui ponselnya. Perlahan tapi pasti, sambil melahap kudapan yang dipesannya, mereka mencoba membuka obrolan dengan bertanya soal kabar perkuliahan.

Hampir setengah jam berselang, keduanya lelap dalam obrolan yang tak jelas juntrungan. Namun Dul tak kunjung jua mengutarakan perasaannya secara langsung pada Nur. Dul, kemudian berpaling dan memilih untuk menunaikan salat Magrib terlebih dulu. Dalam salat, Dul masih saja bimbang untuk memilih mengatakan atau tidak ihwal perasaannya. Kebimbangan itu hadir bukan tanpa alasan.

Sebab, ini untuk kali ketiganya Dul mengungkapkan perasaannya pada Nur setelah dua kali sebelumnya ia mengatakannya. Tentu kedua ajakan Dul ditolak secara lembut oleh Nur, dengan alasan bahwa ia masih trauma berhubungan dengan pria dan enggan berurusan dengan cinta.

Terilhami sebuah film bollywood besutan Amir Khan, 3 Idiot, masih dalam salatnya Dul bergumam. “Everything is fair in love and war,” ujarnya dalam hati. Apa saja akan dilakukan Dul untuk bisa mendapatkan sesuatu yang dianggapnya berharga. Tanpa pikir panjang lagi, usai salat Dul menghampiri Nur yang masih saja terduduk di bawah balutan lampu setengah terang. Dengan penuh harap, Dul memandang ke dua mata Nur dalam-dalam. “Aku tahu ini bodoh. Tapi aku sungguh ingin menjadi pacarmu, Nur,” katanya sambil menahan keringat dingin di sela jemari kaki dan tangannya.

Nur yang sepertinya sudah mengetahui maksud dan tujuan Dul, semula hanya membalas pernyataan Dul itu dengan senyuman. “Iya, tapi aku sebenarnya masih trauma. Aku mau saja menjadi pacarmu asal tidak ada satu pun yang mengetahui hubungan kita, termasuk teman dan keluarga,” ucapnya sambil menundukkan kepalanya.

Dul terdiam sejenak mendengar jawaban Nur. Bukan karena syarat yang diajukan Nur, tapi Dul tak percaya karena akhirnya usahanya tak sia-sia. Setelah pertemuan itu, Dul mengantar Nur pulang dengan rasa gembira. Bahkan sepanjang jalan ia memegang erat jemari Nur sambil memacu kendaraan roda dua yang menjadi saksi perjuangannya.

“Jatuh bangun hanya soal biasa dalam bercinta, komitmenlah yang akhirnya menguatkannya,” ucap Dul.

Tak banyak yang berubah dari kehidupan Dul sesaat setelah ia menjadi pacar Nur. Ia masih saja tampil urakan. Jarang kuliah, mandi hanya sehari sekali, hobbynya tetap memakai celana jeans dengan robekan di bagian lututnya. Bahkan, kewajibannya sebagai muslim pun seringkali ditanggalkannya. Namun, ada satu hal yang berubah. Dul lebih banyak berurusan dengan ponsel bututnya, tentunya untuk sekadar mengingatkan Nur sarapan pagi, makan siang, salat, atau bahkan tidur sekalipun.

Bukan cerita cinta jika tak ada celotehan yang mengubah tawa menjadi duka. Seumpama mendaki gunung, jalanan terjal berbatu kerap datang tanpa berkompromi dengan waktu. Sesekali silang pendapat mewarnai perjalanan hubungan Dul dan Nur. Namun, keduanya sepakat memilih untuk diam ketika tak kunjung menemui jawaban atas permasalahan itu.

Pernah suatu ketika, Nur menanyakan keseriusan Dul dalam menjalani hubungan. Dul yang keras kepala menanggapi pertanyaan itu serampangan. “27 tahun adalah usia paling ideal untuk menentukan keseriusan hidup,” katanya dengan singkat.

Rasa-rasanya wajar saja bagi setiap wanita menanyakan keseriusan pasangannya. Hanya saja, bukan bermaksud membela. Tapi bagi seorang laki-laki, di samping usia, modal dan kemapanan juga menjadi taruhan utama. Dalihnya tentu agar tidak bersembunyi di ketiak orang tua apalagi mertua. Mendengar pernyataan itu, Nur tak lagi berbahasa. Tak ada pertanyaan lanjutan, tak ada sanggahan berkepanjangan. Begitu juga Dul, ke duanya diam dalam kegentingan.

“Tanpa tangis, daun jatuh itu memilih kembali kepada ranting yang sengaja membiarkannya pergi,” tuturnya lirih.

Lebih dari dua pekan setelah Nur memutus hubungan dengan Dul, kabarnya Nur telah dekat dengan seorang lelaki yang telah lama dikenalnya. Lelaki itu juga tinggal tak jauh dari rumahnya. Ia berwibawa, seorang pekerja, yang terpenting ia tak berpenampilan gembel seperti Dul yang kini sudah jadi mantannya.

Sesaat setelah Dul mengetahui wanita yang pernah dicintainya telah dekat dengan lelaki lain. Ia hanya sibuk bermain dengan ponselnya, tak lupa ia juga mengucapkan selamat pada Nur sambil berharap itu adalah cinta terakhirnya. Meski jauh di dasar hatinya ada luka yang sulit disembuhkan lantaran wanita yang pernah dicintainya kini kembali mencintai lelaki yang dulu pernah menjadi pesaingnya.

Dul dan Nur hanyalah satu dari ribuan kisah yang harus memaksa memendam dalam-dalam keinginan untuk melabuhkan sampan di dermaga. Entah dayungnya patah, atau karena dayungan sampan mereka yang berbeda haluan. Ada serpihan hati yang hilang hanya karena sebuah drama. Ada yang hilang karena perbedaan cita. Namun yang terperih adalah karena cinta Dul dan Nur terhalang oleh teka-teki yang tak ditemukan jawabannya.

Percayalah, bagi Dul, cinta Nur bisa saja sirna. Tapi ceritanya akan terus hidup dalam kumpulan bait yang tersimpan dalam rangkaian kata-kata.

[Bolang Rimba]