Pertama kali kami mengenalny sebagai lelaki modis seperti aktor berkacamata di film Harry Poter. Pembawaanya santai dan kadang suka ceplas ceplos (jahil) kepada teman seperkuliahannya.

Ahmad Egits Giatsudint alias Egits kami kenal. Lelaki lajang ini suka bermain musik, meski statusnya sebagai pegawai salah satu bank di ibukota Jakarta. Wajahnya lumayan “menjual” ini kadang suka bikin cari perhatian ke para wanita di kelas Magister KPI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tapi dia sesungguhnya pria setia.

“Lebih baik yang udah ada aja. Kalau nyari (wanita) lain cape dari awal lagi,” kata lelaki asal Pandeggelang ini.

Selain hobi sampingan bermain gitar. Egits juga ternyata jago soal teori-teori sosiologi. Coba-coba anda berdebat soal teori sosial mulai dari Karl Marx sampai Emile Durkhem dia khatam (paham).

Kami pikir, Egits ini salah masuk jurusan kuliah. Lebih cocok jadi Sosiolog daripada pengamat media, apalagi jadi Wartawan.

“Jangan jadi wartawan Gits, Cape, siang malam kerja kayak robot. Dan bakal mati muda loh kalau enggak bisa mengatur pola makan (kesehatan),” canda saya beberapa waktu lalu.

Namun, kita perlu tahu bahwa semua ilmu di dunia ini tidak ada yang sia-sia. Semua ilmu punya manfaat dan keberkahan. Ini sudah dikatakan Allah SWT dalam Al Quran bahwa semua ciptaan Tuhan dan segala isinya tidak ada yang sia-sia di bumi. Begitu kira-kira inti dari salah satu ayat yang ada di kitab suci Al Quran.

Pria yang dari kecil ditinggal oleh Ayahnya ini (yatim) ternyata memiliki pandangan hidup yang terarah (visioner). Tidak heran, hampir keluarganya mengenyam pendidikan, salah satu kakaknya bahkan ada menjadi Doktor di bidang kajian Agama dan menjadi salah satu pegajar di salah satu Perguruan Timggi di Padang.

“Bapak udah enggak ada (meninggal) saat saya masih kecil. Jadi enggak pernah ngerasain gimana rasanya digendong sama Bapak. Saya cuma bisa melihat fotonya dan cerita-cerita Bapak dari ibu,” ucapnya sambil menginggat sosok Bapaknya.

“Bapak saya dulu kata Emak kerja sebagai Carik (Sekertaris Desa). Meninggalnya karena sakit,” ujar Egits.

Keluarga saya, sambung dia, dahulu punya usaha dagang beras. Dari hasil berdagang itu bisa menyekolahkan anak-anaknya.

“Dulu usaha dagang beras orang tua saya laris banget. Tapi sempat mengalami rugi akhirnya berhenti dagang. Sepeninggal Bapak, ibu jualan kue,” paparnya.

Doa dan perjuangan ibu memang tiada batas dan mustajab. Hal ini bisa dilihat dari keluarga Egits hampir semua keluarganya sukses dalam bidang pendidikan. Tidak salah jika ada yang bilang bahwa surga ada ditelapak kaki ibu, dalam artian doa ibu itu lebih dahsyat dari apapun. “Doa ibu itu keramat,” kata bang H Rhoma Irama pada sebuah lagu dangdut.

Hari ini Egits pulang kampung, menemui Emak dan keluarganya. Rasa kangennya membuncah setelah sekian lama merantau di pinggir Jakarta. Dia pamit kepada kawan-kawannya di salah satu grup WaatsApp,” Doakan saya sampai kampung halaman,” pinta Egits kepada teman-temanya sambil mengabadikan gambar di depan motor barunya hasil dari jerih payah selama bekerja itu.

“Semoga Allah beri keselamatan Brader,” kata Hilmi Muharromi salah satu sahabat kuliahnya.

“Mantap Motor baru nich,” timpal Haqqi teman sepermainan PS di RK.

“Tes drive nih,”  cecar Aldi Aryo yang juga punya motor gede.

“Hati2 egits… semoga dilindungi lah dan diberi keselamatan aminn… salam buat ibu dan keluarga egits,” pesan dan doa Nabila kepada Egits.

Kali ini kita belajar dari keteguhan seorang anak muda bernama Egits, belajar tabah ditinggal Bapak dari kecil, belajar prihatin dengan keadaan keluarga sehingga tidak ada sikap jumawa bahwa siapa diri kita berasal, belajar menahan kangen dengan keluarga (Emak) demi cita-cita, belajar mandiri dan memanajemen keuangan namun tetap berbagi antar sesama, sesekali pernah mentraktir kawan-kawannya mie aceh. hehe

Semangat Egits, hari ini mungkin tertatih-tatih membangun masa depan. Tapi yakin dan buktikan bahwa masa depan milik orang yang mau berjuang, bikin Bapak-mu tersenyum di sana. Jangan lupa kirim alfatihah untuk Bapak. Sampaikan salam kami kepada Ibumu, maaf lahir dan batin dan semoga doa keberkahan sampai kepada kami sahabat-sahabatmu para pencari ilmu.

 

 

 

(drs)