Adik dari semalam meringik minta makan,
“Mak pingin makan opor ayam kayak orang-orang lebaran,” pinta Adik.

Si Emak mencoba mencari jawaban permintaan si Adik. Sebab di meja makan hanya ada pesor yang dilipat daun pisang

Daging ayam mahal, daging kerbau mahal, daging sapi juga demikian, Si Emak tak sanggup membeli di pasar

Berkali-kali si Adik merengek tak sabar ingin mencicipi masakan opor ayam seperti menu para pejabat yang dilihat di televisi

“Opor ayam mak,” tegas Si Adik kepada Emaknya.

Emak bingung, Si Bapak juga belum pulang dari musala kampung sebelah

“Iya Dik. Lagi di masak di dapur,” kata Si Emak terpaksa berbohong lantaran tak ada daging ayam untuk di masak.

Sayur cecek (nangka) semalam yang dibawa Bapak dari hajatan kampung sebelah terpaksa “disulap” jadi sayur kuning mirip menu opor ayam.

“Ini Dik opor ayam,” kata si Emak.

“Koq beda rasanya ya Mak?,” tanya si Adik seperti wartawan.

Si Emak diam. Diam seribu bahasa sebab jawaban apa lagi yang bakal diucapkan.

Di negeri ini menu opor ayam saat lebaran terasa mewah. Ya sebab diekspose media di meja-meja para pejabat yang open house saat lebaran tiba

Rakyat jelata hanya bisa menelan ludah lantaran tidak mampu membeli bahan-bahan masakan opor ayam yang harganya melambung tinggi saat lebaran

Lebaran hakikatnya bukan seberapa banyak dan mewah menu hidangan di meja makan

Lebaran sayogiahnya kembali kepada hati yang fitrah

Hati yang suci
Hati yang lapang
Hati yang tak terbeban
Hati yang riang
Hati yang saling memaafkan

[boy]