Holiday, terambil dari kata bahasa Inggris, holy dan day, yang secara harafiah berarti hari suci, hari yang diberkati, hari yang disucikan, hari yang dirayakan oleh umat beragama tertentu. “Hari suci” ada yang sifatnya mingguan atau bulanan, bisa bersifat periodik setiap tahun.

Namun di jaman modern, holiday diidentikkan dengan liburan, saat untuk bersenang-senang, saat untuk relaksasi setelah penat bekerja semingguan. Beberapa “hari libur” bahkan tidak berkaitan dengan perayaan keagamaan tertentu. Holiday kadang dihabiskan untuk mengunjungi sanak saudara, orang tua, atau berlibur mengunjungi tempat-tempat wisata. Pendek kata, bersenang-senang di masa liburan.

Tapi apakah kita tahu dan menyadari, bahwa di saat kita bersenang-senang, bergembira ria, atau merayakan hari suci agama kita, ada pihak-pihak lain yang tidak ikut bersenang-senang dan merayakan, namun berkontribusi besar dalam kesuksesan liburan atau “holiday” kita?. Pihak-pihak itu bahkan boleh jadi tidak seagama dengan kita. Tapi mereka rela dan ikhlas menjaga keamanan dan ketentraman kita supaya kita bisa beribadah dengan khusyu’ dan tenang, supaya kita bisa berlibur dengan senang dan gembira.

Ada tentara-tentara yang menjaga perbatasan yang menjamin keamanan negeri. Ada sejumlah polisi yang merelakan jauh dari keluarga untuk menjaga ketertiban negara selama liburan berlangsung.

Ada operator telekomunikasi, ada petugas listrik, petugas air, layanan-layanan yang harus siap siaga, tidak boleh berhenti melayani di saat liburan.

Ada petugas rumah sakit, para dokter yang berjibaku untuk menolong para pasien dan orang-orang yang tertimpa kecelakaan saat liburan. Ada petani, nelayan, pemasok, dan distributor makanan yang tetap saja bekerja untuk mengatur agar kita masih bisa makan.

Di balik keamanan dan kenyamanan perjalanan kita, ada pilot, ada masinis, ada pramugara/pramugari yang mengusahakan yang terbaik agar kita bisa berlibur dengan tenang. Ada manajer, ada operator, ada direksi, ada pemerintah yang mempunyai tugas dan menjalankannya dengan baik supaya kita sejahtera.

Satu komponen saja terluput, ada yang terganggu dalam liburan kita. Dan seandainya semua orang melaksanakan tugas yang sama, berlibur pada saat yang sama, beribadah pada saat yang sama, justru keharmonisan itu tidak akan terjadi. Itu yang ternyata perlu kita pikirkan dan kita sadari. Bahwa perbedaan itu tercipta untuk saling mengenal dan saling membantu sama lain, bukan untuk saling membenci dan saling menyakiti.

 

 

 

[Wikan Danar Sunindyo]