Potretmu begitu baku dalam pikirku
Padahal, tak pernah sekali pun aku bertemu

Potretmu begitu jelas di benakku
Meski bara tak lagi bersembunyi di balik tungku

Tak ada sedikit pun riak dari air yang di atasnya kuteteskan kerinduan

Seperti menepi, melebur dalam kepalsuan
Menjelma, seperti senja tanpa jingga
Meringkih menahan senyum tak dilepasnya

Menunggu wangi bunga mencari tuannya
Aku tak pernah berhenti menghitung harap yang terucap
Meski, tak satu pun membentuk takdir yang mengirab

Aku tak letih menanggung perih
Memekik setiap tanya tanpa lirih
Akankah asa itu terus bersua dalam kata-kata

Mencari-cari huruf berbalut dusta untuk menyampaikan maksudnya

Kini, biarlah kebisuan mendakwa
Sampai aku dan kau lupa kemana seharusnya rindu itu bercerita

[Bolang Rimba]