Bulan Ramadan baru saja berlalu dari kehidupan kita. Semua amalan yang ada di bulan mulia ini telah kita tinggalkan, dan kita tutup dengan hari idul fitri, persis satu hari kemarin.

Setiap kali berakhir ibadah puasa di bulan Ramadhan muncul pertanyaan, apakah kita senang atau sedih berpisah dengan bulan ini? Atau mungkin berada di antara senang dan sedih?

Para ulama sering mengutip keterangan dari berbagai kitab bahwa Nabi Muhammad Saw justeru menangis sedih saat berpisah dengan bulan Ramadhan. Bahkan para malaikat, langit, dan bumi pun ikut pula menangis. Apakah kita termasuk yang menangis?

Yang bisa menjawab adalah diri kita sendiri, dan tentu saja Tuhan. Sebagaimana puasa merupakan rahasia antara seorang hamba dan Tuhannya, maka demikian pula perpisahannya dengan ibadah puasa tersebut.

Mungkin secara lahiriah orang bisa menampakkan raut muka sedih ditinggal bulan Ramadhan, namun siapa tahu kondisi hatinya. Jangan-jangan justeru ia merasa senang bukan kepalang karena bisa kembali bebas makan dan minum setiap waktu.

Atau mungkin sebaliknya. Di raut mukanya terpancar kegembiraan karena bulan Ramadhan berakhir, tetapi di hatinya ada kesedihan yang mendalam. Ia merasa kehilangan kesempatan emas untuk mendulang pahala sebanyak mungkin.

Dan kita, ya kita, apakah termasuk yang senang atau sedih?.

[Iding Rosyidin]

SHARE
Previous articleMemupuk Tradisi
Next article(Katanya) Lebaran