Saat menjadi khalifah, Umar bin Khattab tengah berjalan bersama pasukannya. Tiba-tiba ia berhenti demi melihat seorang nenek tua di pinggir jalan. Pasukan terheran-heran.”Ada apa hanya untuk seorang nenek tua, engkau berhenti begini lama?” tanya salah satu dari mereka. Umar tetap saja serius mendengarkan nasehatnya.

Setelah wanita tua itu puas menasehati Umar, dan pergi berlalu, Umar bin Khattab berkata, “Demi Allah, Allah Maha Mendengar dialog dia dengan Rasulallah SAW, ketika dia dilecehkan oleh suaminya, maka bagaimana mungkin Umar tak mau mendengar nasehatnya”.

Ya, wanita itu adalah Khaulah binti Khuwailid yang pernah dilecehkan oleh suaminya dengan berkata, “Engkau sekarang seperti punggung ibuku”. Maksudnya, Khaulah tak lagi menarik buat suaminya: tua dan gembrot setelah punya anak bererod. Ketika malam tiba, suaminya ingin menggaulinya, dia menolak dan esoknyanya dia mengadukan halnya kepada Rasulallah SAW.

Kepada wanita itu, Rasulallah SAW mengatakan tak ada jawaban lain kecuali cerai. Wanita itu menjadi khawatir sebab anak-anaknya banyak, dan di lubuk hatinya yang terdalam, ia masih mencintai suaminya. Dia kemudian mengadu langsung kepada Allah SWT hingga turunlah firman Allah SWT:

‎ قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Wanita itu menjadi sebab diwajibkannya membayar kafaraat (denda) bagi suami yang berbuat dzihar. Wallahua’lam.

[Inayatullah Hasyim]