Salah satu rangkaian kegiatan Idul Fitri dalam masyarakat kita adalah ziarah kubur. Kendati ada yang melakukannya sebelum Ramadhan, namun puncak tradisi “nyekar” ini terjadi pada saat lebaran.

Sulit dijelaskan secara tekstual ihwal fenomena masyarakat yang menjadikan ziarah kubur dilaksanakan secara massal. Apalagi menghukuminya sebagai budaya atau ritual tahunan. Sehingga bagi masyarakat awam, ziarah kubur dipahami sebagai rangkaian terakhir dari ibadah puasa, zakat fitrah, shalat Idul Fitri, dan halal bihalal.

Padahal secara tekstual dan teologis, ziarah kubur didasarkan pada sabda Nabi SAW: “Dulu aku melarang kalian berziarah kubur. Maka sekarang berziarahlah, karena hal itu akan menciptakan sikap zuhud pada dunia dan akan mengingatkan pada akhirat” (HR. Ibnu Majah).

Hadits serupa diriwayatkan juga oleh al-Turmudzi, Muslim, al-Nasai, Abu Daud, dan Ahmad. Dari hadits itu minimal kita dapat mengambil dua pelajaran. Pertama, dengan ziarah kubur Nabi SAW sedang mendidik masyarakat agar tidak memburu kehidupan dunia. Tetapi menanamkan sikap zuhud terhadap semua kenikmatan dunia yang menipu dan melalaikan.

Allah SWT mempertegas: “Ketahuilah sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah di antara kamu, serta berbangga-bangga dengan banyaknya harta dan anak …” (QS. al-Hadid/57: 20).

Jadi kehidupan dunia itu hanya perhiasan, sementara, dan palsu. Sedangkan kematian itu sendiri tidak akan terelakkan. Artinya, semua yang kita miliki saat ini akan musnah kecuali kebaikan yang sengaja kita tanam.

Dengan begitu, ada kehidupan setelah kematian. Pada kehidupan setelah kematian itulah terdapat kehidupan yang sebenarnya, kenikmatan hakiki, dan kesenangan abadi. Untuk menggapainya, tak ada pilihan lain, kita harus melewati pintu kematian.

Kembali Allah tegaskan: “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktu (ajal) mereka, mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya” (QS. al-A’raaf/7: 34).

Masalahnya sekarang, sudah siapkah kita apabila kematian datang menjemput? Kita sejatinya harus selalu dalam keadaan siap. Malah, orang-orang shaleh memandang kematian bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Tetapi sesuatu yang harus disembut dengan suka cita karena kematian menghantarkan kepada Zat yang paling dirindukan dengan penuh cinta.

Nah, sedianya ziarah kubur yang kita lakukan berbuah kesadaran akan kematian yang pasti datang. Bukan sekadar ikut-ikutan, tradisi, atau meramaikan hari raya.

Kedua, di awal hadits di atas, ada indikasi bahwa ziarah kubur pernah dilarang oleh Nabi. Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa kebolehan ziarah kubur itu setelah Allah mengizinkan Nabi SAW menziarahi kubur ibunya.

Diriwayatkan oleh Sulaiman bin Buraidah dari bapaknya, Rasulullah SAW bersabda: “Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah kubur. Maka telah diizinkan bagi Muhammad untuk menziarahi kubur ibunya. Maka sekarang berziarah kalian, karena hal itu akan mengingatkan pada hari akhir “ (HR. al-Turmudzi).

Larangan ziarah kubur bisa dimaknai karena pada awal Islam, kondisi keberagamaan masyarakat belum mapan secara tauhid. Nabi khawatir masyarakat memandang Nabi membolehkan memohon kepada mereka yang telah mati dan kepada ruh karena hal itu merusak akidah.

Namun sejalan dengan perkembangan Islam yang terus maju, terutama masalah akidah, yang ditandai dengan dibolehkannya Nabi SAW menziarahi kubur ibunya, maka Nabi pun membolehkan ziarah kubur bagi umatnya.

Saudaraku, larangan ziarah kubur itu tetap berlaku bila kita masih berkualitas seperti masyarakat yang dikawatirkan Nabi saat itu. Karena itu, mari mantapkan akidah sebelum berziarah kubur.*

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, MA
Pengasuh Pondok Pesantren Madinatul Qur’an Indonesia Kota Depok
dan Dosen Pascasarjana FIDKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta