Kadang jodoh itu unik. Kadang jodoh itu misteri dan kadang jodoh itu butuh perjuangan. Awalnya biasa-biasa saja bahkan benci setengah mati justeru itu jodoh kita. Pepatah mengatakan, benci sekedarnya saja, sebab suatu saat kamu bakal cinta dan cintailah apa yang kamu cintai karena suatu saat dia akan lenyap dari kehidupan.

Allah SWT juga bilang dalam Al Quran, setiap manusia sudah diatur jodohnya. Tinggal bagaimana manusia itu yang ‘menjemput’ jodoh tersebut.

“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang menciptakan kamu dari
satu jiwa dan darinya Dia menciptakan jodohnya dan mengembangbiakkan
dari keduanya banyak laki-laki dan perempuan dan bertakwalah kepada
Allah swt yang dengan nama-Nya kamu saling bertanya, terutama mengenai
hubungan tali kekerabatan. Sesungguhnya Allah swt adalah pengawas atas
kamu,” QS.An Nisa: 1].

Berikut kisah nyata dua insan yang menemukan jodohnya dengan cara yang unik dan tidak biasa dari kebanyakan pasangan kekasih menjalin cinta hingga sampai menuju jenjang pernikahan.

Di pertengahan 2015 lalu kisah cinta Cecep Handoko dengan Kiswondari. Dari obrolan politik, Ceko sapaan akrab Cecep mencoba menghubungi Kis yang berprofesi sebagai jurnalis di salah satu media nasional dan kebetulan wanita asal Jogja ini ‘jaga gawang’ desk politik sehari-hari meliput berita di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Dunia politik sebenarnya tidak begitu disukai Kis, namun justru begitu disukai Ceko. Ya seperti kutub utara dan kutub selatan, jika secara logika manusia tidak akan bertemu dan menyatu. Tapi Tuhan punya rencana lain.

Saat itu Ceko membuka percakapan kepada Kis soal isu-isu politik. Dia sangat antusias menanyakan hal-hal berbau politik kepada Kis.

Kis merasa gengsi jika pertanyaan yang dilayangkan Ceko soal politik tak dijawabnya. Sebab Kis
ingin orang lain termasuk Ceko mengakui bahwa dia benar-benar paham soal politik semua hal sudah didapatnya semenjak menjadi jurnalis desk politik selama dua tahun lebih dan situasi nasional maupun sosial.

Ceko sebagai lelaki tangguh semakin penasaran dan mengajak Kis bertemu. Namun Kis yang belum begitu tertarik dengan ajakan pria saat itu karena masih dalam masa ‘penyembuhan hati’ sengaja mengulur waktu dan belum mengiyakan.
Namun Ceko tetap sabar dan tidak patah arang. Dia yakni dengan kata-kata bijak, “Tidak Ada Perjuangan Yang Sia-sia”.

Setelah sebulan berbincang banyak hal soal politik, mereka sudah seperti pengamat politik. Selanjutnya Ceko dan Kis bertemu di sebuah warung steak di wilayah Jakarta, makanan Steak yang tidak begitu disukai Ceko, namun disangggupinya demi bertemu wanita berkacamata tersebut.

Apa yang dibahas?, tentu saja isu politik dan soal isu sosial, bukan
hal gombal atau cinta-cintaan yang kebanyakan dilakukan oleh remaja kekinian. Dua minggu selanjutnya, pertemuan kedua berlangsung. Kali ini Ceko dan Kis jalan bareng nonton film di bioskop di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Sosok Ceko sejak awal dinilai oleh Kis sebagai pria tidak
romantis ataupun manis. Tapi siapa sangka, di balik sikap uniknya itu
Ceko memendam rasa kepada Kis. Dan pada akhirnya sekitar akhir tahun 2016,
Ceko berani memberikan kepastian dan menyatakan perasaannya ke Kis dengan cara tidak romatis seperti di sinetron FTV.

Namun Kis sangat ‘berperikemanusiaan’ dan menerimanya sebagai bentuk probation (percobaan) memberi kesempatan untuk saling kenal dan memahami satu sama lain.Sebab memahami manusia itu bagaikan menjelajahi semesta alam, tidak akan ada
habisnya.

Perbedaan pendapat dan perselisihan jadi warna yang cukup berat dari hubungan Kis dan Ceko, wakuncar (waktu kunjung pacar) hampir tidak pernah dirasakan, jarang bertemu lantaran kesibukan
masing-masing, bahkan saling memendam tangis (pokoknya kalau saya ceritain sedih deh) karena perjuangan dan pengorbanan hubungan yang sangat tidak biasa itu.

Pada Februari sampai Maret misalnya, Ceko berkutat dengan aktivitasnya melakukan pengorganisiran buruh sopir angkutan darat. Puncaknya, Ceko memimpin demonstrasi para sopir angkutan menolak aplikasi online. Yang Kis takutkan pun terjadi, demonstrasi yang dipimpin Ceko berujung kerusuhan di Ibu Kota. Hubungan mereka
baru seumur jagung itu Kis dihadapkan dengan keadaan di mana pria
yang disayanginya dikejar polisi untuk
mempertanggungjawabkan kerusuhan akibat demonstrasi yang dia pimpin.

Meski demikian, akhirnya Kis mengerti risiko menerima seorang Ceko
yang memang dikenal agak unik dalam aktivitasnya sebagai seorang ‘aktivis’. Kis dan Ceko tetap saling menyayangi dan terikat dalam suatu hubungan serius, tanpa terikat ruang dan jarak. Mungkin ini sebuah awal hubungan yang dewasa dan serius.

Pada pertengahan 2016, perjuangan menuju ‘kehalalan’ hubungan resmi dimulai. Ceko berjuang mengumpulkan hasil keringatnya untuk menghalalkan jalinan cintanya dengan Kis. Rencana awal, Ceko ingin melamar Kis dan memboyong
keluarganya pada akhir 2016 ke rumah Kis, tapi apa daya Tuhan berkehendak lain dan baru bisa terealisasi 12 Februari 2017 bertepatan dengan ulang tahun Kis ke-26.

Hambatan dan rintangan jelang lamaran pun sangat banyak dilalui, mulai dari baju yang sudah dipesan sejak sebulan sebelumnya terlambat datang, sampai dengan keluarga Ceko tersasar dan terlambat datang. Tapi kami tetap istiqomah dan berusaha bangkit lagi sebab Allah SWT bakal memberi kemudahan jika hambannya berniat baik.

Bahkan menuju hari penikahan pada 29 Juli 2017 bukan hal mudah untuk
dilewati. Keyakinan, mental, dan keteguhan hati Ceko Dan Kis diuji. Mereka berusaha tetap bangkit dan kembali bergandengan tangan. Hingga hari ini mereka masih terus belajar saling
memahami dan mengisi kekurangan satu sama lain, karena bukan hal yang
mudah untuk dilakukan, bukan juga pelajaran dipelajari
dalam beberapa tahun saja, tapi seumur hidup.

“Apa yang telah kucintai laksana seorang anak tak henti-hentinya aku mencinti. Dan apa yang kucintai kini akan kucintai sampai akhir hidupku, kerana cinta ialah semua yang dapat kucapai dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya, [Kahlil Gibran]

Semoga Sakinah Mawadah Warahmah Kis Dan Ceko*

[drs]