Kebhinnekaan adalah realtila yang tidak dapat dipungkiri oleh bangsa Indonesia. Yang mana bangsa ini terbentuk oleh berbagai macam budaya dan agama. Contoh kecil dari kebhhinekaan itu ada di desa kecil bernama Hargorojo. Hargorojo adalah desa di Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo dan berbatasan langsung dengan Yogyakarta.

Desa yang berada di jajaran pegunungan menoreh ini hidup masyarakat dengan keberagaman agama yang berbeda-beda namun tetap harmoni dan saling gotong royong dalam sosialnya. Agama yang dianut masyarakat desa tersebut dianatara Islam, Budhha, Katholik, bahkan ada beberapa yang masih menganut kejawen.

Contoh kecil kebhinnekan Indonesia itu dikonstrukasikan kembali menjadi sebuah film dokumenter yang berjudul “Sayap Garuda Di Hargorojo” oleh sutradara Muh Khoirudin dan tim Reviens Media. Walaupun dikonstrukasi lagi menjadi sebuah film, namun tidak merubah sedikitpun tatanan kebhinnekan, sosial dan budaya masyarakat Desa Hargorojo. Justru sutradara tetap menghadirkan kehidupan masyarakat Hargorojo yang damai dan hormoni dengan berbagai perpedaannya.

Selain memiliki keberagaman agama, tidak jarang satu keluarga memiliki keyakinan yang berbeda. Keyakinan itu tidak hanya dua, bahkan ada satu keluarga memeluk tiga keyakinan yang berbeda. Hal unik lain adalah masyarakatnya mayoritas bermata penghasilan dari nderes (mengambil nira kelapa) dan dibuat menjadi gula jawa atau gula semut. Selain itu, tingkat gotong royong masyarakatnyapun masih tinggi.

Film dokumenter ini terealisasi atas dasar dedikasi pada bangsa Indonesia dan tim ingin merekam betapa arifnya bangsa Indonesia lewat sudut padang film dari sebuah desa yang tetap menerapkan kebhinnekan tersebut, walaupun tidak sedikit dari mereka tau teori kebhinnekaan itu. Bagi mereka hal itu bukan lagi membahas teori, namun lebih dari penerapan tanpa teori yang nyata dalam kehiduapn bermsyarakat.

Tidak heran, walaupun dengan berbagi perbedaan itu, masyarakat desa yang pada dasarnya mayoritas beragama islam ini tetap harmoni dengan tetangga yang berbeda keyakinan. Penulis sendiri juga merupakan warga asli Hargorojo. Oleh sebab itulah penulis dapat melihat dan menyaksikan langsung penerapan kebhinnekaan bangsa begitu nyata tanpa ada rekaya politik kepengan suatu golongan.

 

 

 

 

[Choiril Chodri]