Jpeg

Pertemuan kami dengan seorang Pendeta Kristen Protestan beberapa hari yang lalu dan Kami banyak berdiskusi banyak hal, tentang pendidikan, politik, bahkan masa depan. Tidak ada pertengkaran pendapat di antara kami.

 

 

Perdebatan tentang agama sampai kapanpun tidak akan pernah selesai, dan jangan sampai mengecap mereka pada jalan yang salah dan kita pada jalan yang benar karena kita memiliki kebebasan beragama.

 

Bapak sebelah kiri saya ini adalah seorang pendeta agama kristen protestan. Beliau adalah mahasiswa pascasarjana S3 UIN Syarif Hidayatullah, dan meneliti tentang Islam sebagai rahmatan lil alamin, dan ketokohan Syamsi Ali sebagai Imam besar di New York.

Ternyata beliau ini belajar bahasa arab juga lho, dan semangat untuk mempelajari tentang Islam. Beliau cerita bagaimana susahnya dia untuk belajar dan menulis huruf-huruf Arab.

Semoga perbedaan apapun yang ada di Indonesia tidak membawa pada kebencian. Rasul kita pun mengajarkan demikian, ingat kisah beliau yang setiap hari menyuapi seorang pengemis tua keturunan Yahudi. Rasul memberikan contoh jelas betapa kita harus saling tolong menolong dalam kebaikan. ingat juga nabi yang diludahi oleh keturunan Yahudi dan dibalas dengan kebaikan, pada saat dia sakit, Rasul malah menjenguknya. sungguh luar biasa.  Rasul mengajarkan bahwa Kami umat Islam tidak diperbolehkan membenci agama apapun, namun siapapun yang membahayakan agama dan umat harus kita jaga dan lindungi.

 

Kita berharap perbedaan agama itu bukanlah suatu masalah. Dengan kita saling menghormati dan saling toleransi maka terciptalah negeri yang damai, aman, tenteram dan sentosa. Iya ingat toleransi, dan perlu diketahui toleransi adalah sebatas aspek sosiologis bukan keyakinan, dan bukan berarti juga kita ikut apa yang mereka lakukan (ritual) begitupun sebaliknya. Lakum Diinukum Wa Liya Diin intinya.

 

Annalizi, M. Haqqi