Ilustrasi photo by Zaky
Ilustrasi photo by Zaky

Aku ingin bercerita sedikit ditengah bangunan-bangunan tinggi ini.

Sudah satu tahun merantau di tanah ibu kota. Asam garam sedikit sudah dirasa. Tak lama merantai ku beli si merah, sebutan untuk kuda besi yg menjadi andalan ku menjelajah ibu kota.

Tak terasa waktu pembayaran pajak tiba, ditemani kakak tingkat kuliah, sebut saja Musyafa. Alumni pertama prodi kuliahku. Sore senja diwarnai rintikan gerimis dan tebaran debu beserta asap kenalpot kami mencari alamat rumah Bapak jayadiah.

Orang yg punya kuda besi ku sebelumnya untuk peminjaman KTP guna pembayaran pajak. Dengan sedikit lupa arah akhirnya kami tiba di kediamannya. Disambut seorang ibu dengan senyuman, ini motor suamiku dalam hatinya, ketika bercerita setelah kami berbincang.

Langsung saja ku tanya “Bapak Jayadiahnya ada bu? Bapak udah gk ada mas. Sudah 40 hari lebih bapak Meninggal. Kami pun terdiam, sejenak.

Dengan penasaran ajukan pertanyaan, Bapak sakit apa Bu. Tidak sakit apa apa. Mendadak pusing, dibawa ke rumah sakit dan meninggal. Akhirnya kami pulang dengan rasa haru, bagaimana tidak beliau masih muda, rajin ibadah, tapi ajal sudah menjemputnya.

Selain mendapatkan pemberian berkas Fotokopi ktp + surat keterangan kematian, kami juga pulang dengan mengantongi nasihat kematian. Sepulang dari tempat tersebut mudah mudahan diri menjadi lebih baik, karena selalu ingat nasihat kematian, bahwa ajal bisa menjemput siapa saja dan dimana saja. Tinggal bagaimana kita mempersiapkan diri untuk mendapat tempat terbaik disisinya.