Rahma Hafidzah NTT
Rahma Hafidzah NTT

Umat Islam tidak akan pernah kehabisan orang-orang hebat penghafal Qur’an. Tidak perlu khawatir, di era sekarang dengan istilah “Kids Jaman Now”. Kalimat ini selalu digunakan untuk mempublikasikan kondisi anak-anak jaman sekarang dari prespektif negatif.

Hafidzah 30 juz, itulah gelar yang saat ini diraih Rahmawati Boimau (17) setelah empat tahun terakhir menjadi santri mukim di Rumah Tahfizh Daarul Qur’an Ciledug, Tangerang. Rahma sapaan akrabnya, memang punya cita-cita menjadi penghafal Alqur’an. Karenanya, ia rela jauh-jauh datang dari kampung halamannya di Oe Oe, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Empat tahun menghafal di Tangerang, selama itu pula Rahma belum pulang ke tempat asalnya untuk bertemu orangtua dan sanak saudara. Tekadnya kuat, ia ingin mendalami ilmu-ilmu Islam dan Alqur’an agar saat kembali ke kampung, Rahma sudah punya bekal yang cukup untuk membangun desanya.

“Rahma mau jadi ustadzah di kampung karena masih jarang guru ngaji di sana. Rahma mau mendidik anak-anak kecil supaya nanti mereka yang meneruskan dakwah Qur’an di kampung,” ujarnya.

Melalui hafalan Qur’an, Rahma juga ingin membahagiakan kedua orangtuanya dan memberikan mahkota di surga kelak. Meskipun, ia belum pernah sama sekali bertemu ayah kandungnya sejak lahir. Keduanya berpisah saat Rahma masih di dalam rahim sang ibu.

“Jadi sampai sekarang Rahma belum ketemu Papa. Mama juga enggak pernah kasih tau keberadaan Papa. Mudah-mudahan dengan hafalan Qur’an yang Rahma punya, Allah kasih kesempatan Rahma bertemu dengan Papa,” harapnya.

Permasalahan hidup tak menghalangi langkah Rahma memiliki banyak cita-cita. Justru, ia makin semangat meraih mimpi-mimpinya. Setelah jadi ustadzah nanti, Rahma berencana membangun pesantren. Ia sangat terinspirasi sosok Ustad Yusuf Mansur yang sudah membangun puluhan pesantren dan ratusan rumah tahfizh di berbagai daerah di Indonesia bahkan dunia

Rahma pun bersyukur berada di Rumah Tahfizh Daarul Qur’an Ciledug. Tinggal bersama teman-teman seperjuangan untuk menghafal Alqur’an semakin memotivasi dirinya meraih impian. “Rahma juga ingin kuliah di Mesir supaya bisa menambah ilmu untuk membangun desa dan Indonesia. Mudah-mudahan Allah mengabulkan setiap cita-cita Rahma,” harapnya lagi.

Rahma adalah salah satu dari puluhan ribu santri rumah tahfizh yang juga punya cita-cita setinggi langit. Menjadikan Rahma dan santri-santri rumah tahfizh lainnya generasi penghafal Qur’an merupakan ikhtiar PPPA Daarul Qur’an guna membangun Indonesia dan dunia dengan Alqur’an.