Photo by Zaky in Komodo Island
Photo by Zaky in Komodo Island

Mengingat kejadian ustadz Muhammad Subki, salah satu da’i dewan da’wah yang dikirim bulan lalu untuk bertugas da’wah setahun di pedalaman pulau Seram, Maluku, yakni tatkala Allah memberikan ujian berupa dipanggilnya ayahanda beliau mengingatkan saya pada ujian yg telah saya alami pada tanggal 26 Desember 2014, dimana Allah memanggil ibu saya saat saya sedang bertugas da’wah di pedalaman pulau Komodo.

Kondisi yang serba sulit, baik dari segi akses transportasi atau akses informasi (minimnya sinyal hp). Qadarullah saat ibu saya sedang posisi naza’ pada hari Kamis (melalui telpon kakak saya yg sedang menangis memperdengarkan suara ibu saya, dan saya berusaha mentalqin ibu), saya masih mendapatkan tumpangan kapal turis untuk menyeberangi lautan selama 5 jam lebih, apalagi saat itu harus melawan arus laut.

Sesampainya di labuan bajo untuk menunggu pemberangkatan pesawat jam 8 pagi hari Jum’at, pada jam setengah empat menjelang subuh hari Jum’at saya sudah d telpon ayahanda d desa bahwa ibunda sudah tiada. Saat itu ayahanda bertanya, bagaimana dengan proses pemakaman Ibunda, apakah harus menunggu saya pulang di rumah atau langsung d kuburkan, saya sampaikan melalui telpon genggam dengan menguatkan hati, bahwa faktanya ibu saya sudah tiada, mau menunggu saya sampai d rumah itu tidak merubah keadaan, maka saya sampaikan agar ibu segera dimakamkan tanpa menunggu kedatangan saya.

Pada hari Jum’at 26 Desember 2014 sekitar pukul 8 pagi ibu saya dimakamkan, dan saya baru sampai di rumah pada waktu sebelum masuk Maghrib. Pesawat yg saya naiki dr labuan bajo merupakan bangku terakhir yg saya beli tiketnya setengah jam sebelum berangkat, tapi Allah mudahkan kepulangan saya di desa, yg saya rasakan saat bisa menumpang kapal turis pada hari Kamis, padahal harusnya hari itu tidak ada kapal masyarakat yg berangkat Dr pulau komodo menuju labuan bajo.

Saat saya mendengar kabar tadi malam bahwa ayahanda subki wafat sekitar jam 22.00 WIB, posisi ustadz subki berada d daerah lokasi da’wah yg tidak ada signal sehingga waktu itu beliau tidak tahu kalau ayahanda sudah tiada. Saya berusaha mencari kontak yg bisa d hubungi di tempat lokasi penugasan beliau hingga jam 12 malam, Alhamdulillah pagi hari tadi informasi tersebut sudah disampaikan ke ustadz subki.

Saya tidak tahu bagaimana perasaan beliau saat ini, semoga Allah senantiasa menguatkan, sebab saat ini ustadz subki sedang menuju bandara Ambon melalui perjalanan darat yg harus ditempuh selama 18 jam, dan beliau akan berangkat ke Aceh pesawat besok jam 2 siang.

Tentunya kondisi beliau lebih berat dari apa yg saya alami. Tapi ustadz subki tak perlu bersedih, sebab ayahanda akan bangga mendapatkan investasi amal jariyah berupa mujahid da’wah yg mengabdi untuk syi’ar Islam di pelosok Pedalaman Indonesia. Mari kita do’akan agar Allah memudahkan perjalanan ustadz Muhammad Subki dan senantiasa dikuatkan dan yakin, bahwa kematian di dunia merupakan awal dari kehidupan yang baru, dan ayahanda beliau ditempatkan bersama golongan orang Sholih dan syuhada’